WAISAK 2017 : Kirab Agung Amisa Puja Dengan Tradisi Jawa

Ratusan umat Budha menggelar detik-detik Hari Raya Waisak 2561 BE, yang dipusatkan di Wihara Giriloka, Dusun Gunung Kelir, Desa Jatimulyo, Girimulyo, Rabu (10/5/2017) sore. Seluruh peserta ibadah ini, menggunakan pakaian tradisi Jawa. (Uli Febriarni/JIBI - Harian Jogja)
11 Mei 2017 18:22 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Waisak 2017, umat Buddha di Kulonprogo menggelar kirab dengan tradisi Jawa.

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Ratusan umat Buddha mengikuti Amisa Puja, sebagai rangkaian Hari Raya Waisak 2561 BE, yang dipusatkan di Wihara Giriloka, Dusun Gunung Kelir, Desa Jatimulyo, Girimulyo, Rabu (10/5/2017) sore. Seluruh peserta ibadah ini, menggunakan pakaian tradisi Jawa.

Prosesi Amisa Puja dilakukan untuk mengenang ajaran Guru Agung Buddha Gautama, sekaligus mengenang kembali pemindahan wihara dari yang lama, ke lokasi yang baru. Kirab dimulai dari bekas lokasi Wihara Branti [wihara lama] menuju Wihara Giriloka yang berjarak sekitar satu kilometer.  Harapannya, lewat kegiatan meditasi sambil berjalan ini, setiap umat menghayati setiap pijakan langkah mereka. Sehingga terbangun kesadaran keimanan dalam menjalankan ajaran Guru Agung. Sepanjang prosesi, seluruh umat mengenakan pakaian khas Jawa, seperti kebaya, jarik, lurik dan blangkon.

Panitia Peringatan Waisak 2561 BE/2017 Girimulyo, Surahman mengatakan, ada alasan tertentu prosesi ini kirab tersebut memadukan unsur agama Budha dan budaya Jawa. Yakni, sebagai cara menampilkan jati diri mereka sebagai manusia Jawa, menghormati semua latar suku, adat, dan agama di Indonesia, tanpa membeda-bedakan ataupun mengarah pada hal-hal rasial. Bahkan dalam kegiatan tersebut, banyak umat muslim setempat yang ikut membantu persiapan, seperti peralatan dan memasak.

"Tema perayaan Waisak tahun ini yakni Rukun Binangun Lumantar Laku Welas Asih," kata dia, di lokasi prosesi.