Sumur Ambles, Fenomena Alam Naiknya Muka Air Tanah

16 Mei 2017 01:31 WIB Sekar Langit Nariswari Sleman Share :

Sumur ambles perlu disikapi dengan mengubah teknik pembuatan sumur.

Harianjogja.com, SLEMAN -- Amblesnya 150 sumur di Manggis, Puncu, Kediri pada awal Mei lalu dinilai menjadi fenomena alam akibat naiknya muka air tanah (MAT). Masyarakat setempat dinilai perlu melakukan adaptasi dengan mengubah teknis pembuatan sumurnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Eko Teguh Paripurno, koordinator Penelitian Magister Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Nasional (UPN) ‘Veteran’ Yogyakarta pada wartawan pada Senin(15/5/2017). “Amblesan ini sangat alamiah, tidak ada hubungannya dengan  sikap warga atau kondisi politik atau pertanda tertentu, jangan disalahartikan,”tegasnya.

Naiknya MAT disebabkan ketidakstabilan dinding sumur karena penjenuhan material penyusunnya. Pola amblesan ini juga berbeda-beda tergantung tataran geologi masing-masing wilayah. Sumur yang ambles ini kemudian memiliki ketinggian muka air yang lebih kecil dari sebelumnya meski diawali dengan keruhnya air sumur tersebut. Dengan kondisi ini, sumur yang biasanya memiliki kedalaman 25 meter cukup digali 5 meter dan sudah mengeluarkan air.

Selain yang telah disebutkan, masih ada sekitar 110 sumur yang airnya mulai keruh dan dalam proses ambles. Eko menguraikan jika warga sudah diminta untuk menguruk dan membuat sumur bor di lokasi sumur lama. Selain itu, warga juga diminta untuk membuat pasangan bata atau buis beton pada seluruh dinding sumur. Diberikan juga alternatif pembuatan sumur pompa dengan pipa paralon sebagai casing.

Diakui hal ini memang membutuhkan dana lebih banyak dibandingkan yang biasa dikeluarkan warga. Selama ini, warga setempat memang membuat sumurnya tanpa sokongan casing maupun pasangan bata di dindingnya. Berdasarkan penuturan warga, ujar Eko, hal tersebut selama ini dianggap tidak perlu karena sumur yang dimiliki tetap baik-baik saja. Di kawasan tersebut, maksimal sumur sedalam 75 meter masih berfungsi normal tanpa casing.

Fenomena ini dikatakan tidak berdampak banyak pada kualitas air yang dihasilkan sumur tersebut kecuali tampak visualnya. Meski memang harus ditunggu hingga jernih terlebih dahulu namun air tersebut tetap layak konsumsi dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Menurut Eko, hal ini juga telah dibuktikan dengan pengujian di Balai Kesehatan Kediri.

Dijelaskan jika fenomena ini memang baru pertama kali terjadi. Eko menilai kemungkinan penyebabnya bisa saja erupsi yang dialami Gunung Kelud pada 2014 silam. Pasalnya, wilayah Desa Manggis ini berada di lereng barat daya Gunung Kelud. Meski demikian, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menentukannya termasuk soal ketahanan MAT yang baru ini di musim kering.

Fenomena sumur ambles ini terjadi di 5 dusun berbeda,Dorok, Nanas, Jambean, Manggis, dan Ringinbagus, yang berada di ketinggian berkisar dari 240 mdpl sampai dengan 330 mdpl. Eko menyebutkan ketinggian wilayah tersebut berdampak pada tingkayt amblesan sumur tersebut. Semakin tinggi desa tersebut maka amblesnya tidak terlalu parah karena tatanan geologinya masih mampu menopang sumur tersebut demikian pula sebaliknya.(