Jogja Punya Potensi Pengembangan Eco Tourism

JIBI/Desi SuryantoAnak-anak yang tinggal di bantaran Kali Code menerbangkan balon yang telah digantungi dengan tulisan cita-cita, mimpi dan harapan mereka di kawasan Jembatan Kleringan, Yogyakarta, Selasa (01/01 - 2013). Mimpi, semangat dan harapan di awal tahun 2013 ini mereka lepaskan setinggi/tingginya ke udara agar dapat tercapai di tahun ini.
23 Mei 2017 19:20 WIB Holy Kartika Nurwigati Jogja Share :

Konsep wisata ramah lingkungan atau eco tourism sudah lama berkembang

 
Harianjogja.com, JOGJA-Konsep wisata ramah lingkungan atau eco tourism sudah lama berkembang. Pengembangan eco tourism di Jogja dinilai cukup potensial untuk mulai dilirik oleh para pelaku pariwisata dan perhotelan.

Isu tersebut dikemukakan dalam acara Pembangunan Eco Tourism di Jogja, Workshop Pengembangan Kapasitas untuk Profesional di Sektor Perhotelan dan Pariwisata di Hotel Sakanti Malioboro, Senin (22/5/2017).

"Pariwisata sangat penting untuk ekonomi nasional. Selain itu, sangat prospektif untuk lapangan kerja, terutama untuk anak muda," ujar Pakar Eco Tourism, President Director PT IndonesiaWISE, Amol Titus.

Amol mengatakan kawasan Jogja memiliki berbagai potensi untuk pengembangan eco tourism. Dalam pariwisata terdapat banyak aspek unik yang dapat ditawarkan dan menjadi magnet bagi turis. Kota ini memiliki banyak pilihan destinasi yang dapat ditawarkan, di antaranya wisata-wisata unik.

"Destinasi dengan aspek unik banyak dicari oleh turis-turis asing. Seperti magnet, mereka akan berdatangan," ungkap Amol.

Dalam konsep eco tourism ini, hotel perlu menerapkan pendekatan komperhensif untuk eco tourism. Hotel, kata Amol, harus dapat mengupayakan pengematan energi dan air, pengelolaan limbah dengan benar, memaksimalkan penggunaan produk lokal hingga turut berpartisipasi dalam mempromosikan budaya dan tradisi serta harus lebih peka terhadap kepedulian masyarakat kecil.

Eco tourism tak hanya akan menggerakkan wisatawan saja. Amol mengungkapkan eco wisata juga akan berdampak positif terhadap sektor usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM. Roda perekonomian di sektor tersebut akan bergerak, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan wisata tersebut.

"Bisnis UMKM akan ikut bergerak seiring dengan berkembangnya konsep eco tourism ini," imbuh Amol.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) DIY, Istidjab M. Danunagoro mengungkapkan eco tourism merupakan konsep yang sangat baik untuk dikembangkan. Kendati konsep ini belum dapat diterapkan secara maksimal, namun seiring perkembangan pembangunan di Jogja, ke depan eco tourism dapat memberikan dampak yang baik terhadap pariwisata.

"Mungkin sekarang belum bisa diterapkan, mudah-mudahan tahun depan. Karena eco tourism ini lebih banyak diminati oleh wisatawan mancanegara, sedangkan wisatawan atau tamu lokal masih belum terlalu memahami," jelas Istidjab.