UMKM SLEMAN : Duh .. Sentra Industri Bambu Minim Pengrajin

23 Mei 2017 00:19 WIB Sekar Langit Nariswari Sleman Share :

UMKM Sleman kawasan Seyegan dikenal sebagai penghasil kerajinan bambu

Harianjogja.com, SLEMAN -- Jumlah pengrajin bambu di kawasan Seyegan menurun drastis selama beberapa tahun belakangan. Kondisi ini diperparah dengan jumlah bahan baku komoditas ini yang semakin langka dan mahal.

Marzuni, Ketua Kelompok Pengrajin Bambu Roose Bambu mengatakan kelangkaan ini didasari semakin minimnya minat generasi muda menjadi pengrajin bambu. Ia memaparkan di wilayah Dusun Gentan, Margoagung, Seyegan sendiri, yang merupakan basis sentra industri kerajinan bambu di Sleman, jumlah pengrajin kini hanya berkisar 45 orang.

“Itu pun masih kembang kempis,”terangnya pada Minggu (21/5/2017).

Hal ini berbanding terbalik dibandingkan periode 1980 sampai 1990 akhir ketika hampir semua rumah di dusun itu menjadi produsen lincak, bangku dari bambu. Sebagian besar pengrajin beralih profesi menjadi buruh bangunan karena dirasa menghasilkan uang dengan lebih cepat. Mendesaknya kebutughan ekonomi ini yang kemudian membuat masyarakat meninggalkan dunia kreasi bambu yang sebenarnya sudah dilakoni selama beberapa generasi.

Faktanya, kerajinan bambu saart ini mulai mendapatkan angin kembali karena nilai jualnya yang mulai tinggi. Saat ini, 1 set furnitur bambu komplit dengan meja dan kursi bisa terjual dengan kisaran harga Rp800.000 hingga Rp1,5 juta. Harga jualnya berbeda-beda tergantung desain serta bahan baku yang digunakan. Meski demikian, kini para pengrajin mulai kehilangan ketrampilannya selain jumlah pengrajin yang terbatas.

Karena itu, diberikan pelatihan mengenai maket konstruksi bambu kepada masyarakat pengrajin yang tergabung dalam Sekolah Pengrajin Bambu. Merespon harga bahan baku yang mulai melambung, dilakukan pula kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan agar sejumlah jenis bambu dapat terus tersedia dengan program pembibitan dan pengawetan bambu. Marzuni menyebutkan jenis bambu wulung, apus, tutul, dan petung menjadi jenis yang kerap digunakan. Selain itu, upaya pembibitan juga diharapkan mampu mensuplai konservasi lingkungan. Di sisi lain, usaha pembibitan bisa menjadi peluang usaha bagi keluarga yang tidak bisa maupun tak tertarik menjadi pengrajin bambu.

Sementara itu, Inggar Septia Irawati, salah satu akademisi Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada menyampaikan jika bambu sebenarnya memiliki keunggulan karakteristik tertentu dibandingkan kayu. Selain sifatnya yang serupa dengan kayu, karakteristik bambu lebih unggul seperti sifat tariknya yang setara dengan baja. Terlebih lagi, bambu memiliki waktu regenerasi yang lebih singkat dibandingkan kayu yakni 3 tahun saja.

“Sementara kayu butuh 5 tahun paling cepat, kayu juga dalam pemanfatannya juga ditebang habis,”ujar dia.

Ia menilai bambu lebih efektif karena dalam 1 rumpun bisa tumbuh hingga 8 tunas dan bisa disisakan untuk regenerasi tunas. Harapannya, pemanfaatan bambu yang semakin berkembang bisa mengurangi ketergantungan masyarakat Indonesia pada kayu. Cina, yang kerap dikenal sebagai negara tirai bambu, juga telah mampu memproduksi bambu laminasi yang menyerupai kayu untuk kebutuhan furnitur. Pihak akademisi sedang berupaya agar mapu memproduksi alat produksi bambu laminasi yang sesuai dengan karakteristik bambu lokal. Inggar menguraikan jika bambu lokal memiliki diameter yang semakin kecil semakin ke ujung sementara bambu Cina relatif konstan.