Advertisement
PASAR TRADISIONAL JOGJA : Butuh Bunga Tabur, Datanglah ke Depan Pasar Kranggan
Advertisement
Satu hal yang terbersit saat berbicara Pasar Kranggan adalah perdagangan bunga tabur
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA-Satu hal yang terbersit saat berbicara Pasar Kranggan adalah perdagangan bunga tabur. Bagaimana tidak? Belasan pedagang bunga tabur berjajar memenuhi teras pasar bagian depan sehingga terlihat paling menonjol.
Para pedagang membuka bisnisnya sejak lama. Suwanti misalnya. Perempuan 52 tahun ini mulai berjualan sejak tahun 2005. Sebenarnya ia sudah ikut berjualan orang tuanya sejak kecil tetapi ia resmi membuka bisnis sendiri mulai tahun 2000, sesaat setelah ibunya meninggal dunia.
Perempuan asal Kututsari, Sengon, Prambanan, Klaten, ini rela menempuh jarak 50 kilometer setiap hari demi melanjutkan bisnis yang diturunkan orang tuanya. Ia ingin agar konsumen yang sudah lama menjadi pelanggannya tidak lari ke lain hati.
Setiap hari, Wanti menyediakan beragam bunga tabur, mulai dari mawar merah dan putih yang dijual mulai Rp25.000 sampai Rp50.000, bunga kantil Rp1.000 per biji, melati Rp100.000 per kg, keranjang seharga Rp10.000, sampai kain kafan seharga Rp20.000 per meter.
Ia mengatakan, pasca Lebaran kondisi penjualannya kembali sepi. Tidak seperti saat bulan ruwah (arwah) menjelang Ramadan kemarin. "Kalau ruwah sehari bisa jual sampai tujuh karung. Satu karung isi empat kilo. Kalau kayak gini paling hanya dua karung saja," katanya pada Harianjogja.com, Selasa (4/7/2017).
Namun ia tetap bersyukur karena meski penjualannya sepi, dalam sehari, ia bisa menerima pendapatan bersih sedikitnya Rp50.000. "Bisa buat tambah-tambah beli kebutuhan," ujarnya.
Setiap hari, Wanti membuka lapaknya mulai pukul 6.00-17.00 WIB. Namun, lapaknya tidak pernah tutup karena pada malam hari lapaknya digunakan salah satu saudara untuk berjualan bunga yang sama. "Dia [saudara] bawa barang sendiri tapi kadang juga jualin bunga saya," tuturnya.
Bunga yang tidak laku bisa dikeringkan dan dijual di Pasar Beringharjo. Harga jualnya bisa melebihi Rp15.000 per kg. Namun ia beruntung karena tidak pernah mengalami itu. "Dagangan saya selalu habis," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Waspada Efek Perang Timur Tengah, Malaysia Perketat Keamanan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- Belanja Pegawai Bantul Tembus 34 Persen Rekrutmen Dipangkas
- Jenazah 2 Prajurit Gugur di Lebanon Tiba di Lanud Adisutjipto
- SIM Keliling Jogja Dibuka di Alun-Alun Kidul, Cek Jadwalnya
Advertisement
Advertisement




