Advertisement
Belum Puncak Musim Penghujan, Belasan Longsor Terjadi di Kulonprogo
Advertisement
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo mencatat telah terjadi bencana longsor di 12 titik di wilayah Kulonprogo
Harianjogja.com, KULONPROGO-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo mencatat telah terjadi bencana longsor di 12 titik di wilayah Kulonprogo. Belasan longsor tersebut muncul di belasan titik, selama musim penghujan November.
Advertisement
Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Gusdi Hartono mengatakan, untuk menghadapi bencana longsor tersebut, BPBD sudah melakukan sejumlah langkah. Antara lain assesment, bantuan logistik, peralatan dan menerjunkan sumber daya manusia (SDM) untuk turut kerja bakti bersama warga di sekitar bencana.
Gusdi mengungkapkan, sebetulnya puncak penghujan baru akan terjadi pada Desember dan Januari mendatang. Namun, bencana longsor bukanlah bencana yang selalu dapat diperkirakan sebelumnya.
"Bisa saja, longsor tidak terjadi. Walaupun di lokasi itu sudah ada tanda-tanda peringatan longsor seperti hujan yang turun lebih dari dua jam, rekahan tanah, rembesan air yang tidak biasa dengan warna keruh," kata dia, Selasa (21/11/2017).
Di kesempatan yang sama, Gusdi kembali menegaskan, BPBD selalu berupaya untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat, mengenai potensi bencana yang kemungkinan muncul di wilayah mereka masing-masing.
Saat ini, total sudah ada 97 Early Warning System (EWS) sebagai alat peringatan dini bencana longsor, terpasang di banyak titik rawan longsor. Kendati demikian, masyarakat diminta untuk tetap memerhatikan beragam tanda-tanda alam.
Pasalnya, secanggih apapun EWS yang ada, bisa saja pada suatu waktu EWS tidak akan berfungsi secara maksimal. Misalnya mengalami kerusakan, sehingga tidak bisa berbunyi ketika terjadi bencana.
Selain itu, berdasarkan kajian yang dilakukan, ditemukan bahwa ada kemungkinan kawasan yang terpasang EWS, tidak mengalami bencana, melainkan bencana terjadi di wilayah yang tak memiliki EWS.
"Dengan mengamati perubahan tanda-tanda alam sebagai kearifan lokal, masyarakat mengetahui langkah awal yang harus diambil," ujarnya, Kamis (19/10/2017).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Dua Prajurit Masih Dirawat, KSAD Ungkap Situasi Terkini Lebanon
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Update KRL Jogja ke Solo Hari Ini 4 April 2026, Ini Jamnya
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jamnya
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jam Lengkapnya
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
Advertisement
Advertisement




