Wisudawan Diwanti-wanti Jangan Meniru Kebohongan Dwi Hartanto

28 Januari 2018 05:20 WIB Sunartono Sleman Share :

Kebohongan yang dilakukan Dwi Hartanto terus dikenang sebagai perilaku buruk oleh para akademisi di tanah air

Harianjogja.com, JOGJA - Kebohongan yang dilakukan Dwi Hartanto terus dikenang sebagai perilaku buruk oleh para akademisi di tanah air. Koordinator Kopertis Wilayah V DIY Bambang Supriyadi meminta kepada para intelektual muda agar tidak menggunakan cara tak beretika dalam meniti karir.

Pernyataan itu disampaikan di hadapan ratusan peserta wisuda di Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir Universitas Islam Indonesia (UII), Sabtu (27/1/2018).

Sebelumnya tanah air digemparkan dengan terungkapnya kebohongan publik yang dilakukan Dwi Hartanto mahasiswa asal Indonesia yang menempuh studi doktor di Technische Universiteit Delft Belanda.

Bambang Supriyadi menjadikan tindakan Dwi Hartanto tersebut tidak patut ditiru. Ia berpesan kepada para peserta wisuda UII agar tidak melakukan tindakan seperti yang dilakukan Dwi Hartanto.

"Bahkan dia belum associate profesor tetapi mengaku sudah. Kenapa dulu sekolah di Belanda, tidak jadi diterima di UGM. Karena memalsukan tanda tangan. Lalu dianggap orang hebat, orang jos, tidak tahunya adalah kebohongan, ini tidak boleh dicontoh," ungkap Bambang, Sabtu (27/1/2018).

Bambang mengingatkan kepada semua pihak, bahwa saat ini memasuki zaman revolusi industri keempat. Kenyataan itu tidak bisa dipungkiri, kemajuan teknologi akan selalu terjadi ke depan, mulai dari bercocok tanam menggunakan robot hingga kemungkinan terjadinya pergeseran metode perkuliahan dari bertatap muka menjadi secara online.

"Di Indonesia pendidikan tidak hanya sekedar memintarkan orang. Perguruan tinggi harus berprinsip bahwa pendidikan memanusikan manusia. Tidak hanya mendidik dari sisi ilmu kemampuan tetapi harus menjadi manusia yang baik, jujur," tegasnya.

Alumnus UII Dodik Setiawan Nur Heriyanto dalam kesempatan itu mengatakan pentingnya mengambil hikmah dari kegagalan dengan tanpa menyerah. Ia mencontohkan Mark Zuckenberg pernah mengalami kegagalan besar saat dinyatakan drop out dari Harvard University.

Namun kegagalan itu tidak menghalanginya untuk berkarir hingga sukses mendirikan sosial media, Facebook. Bahkan saat berpidato di hadapan peserta wisuda di Harvard University 2017, Mark menyampaikan bahwa di dunia yang perubahannya serba cepat ini, satu-satunya strategi yang dijamin gagal adalah tidak mengambil resiko.

"Karena itu kesuksesan terbesar datang karena adanya kebebasan untuk mengalami kegagalan," ungkap Dosen FH UII yang menjadi pakar hukum internasional dan Uni Eropa ini.

Dalam wisuda periode ketiga tahun akademik 2017/2018 ini, UII meluluskan 702 intelektual muda, terdiri atas 598 program sarjana, sembilan orang D3, 94 orang S2 dan satu orang dari program doktor.