Urus Paspor Kini Bisa di Gunungkidul, Tak Perlu ke Kota Jogja
Layanan paspor kini hadir di MPP Dhaksinarga Gunungkidul, memudahkan warga tanpa perlu ke Kota Yogyakarta atau Sleman.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul menilai fenomena tanah ambles yang terjadi masih dalam kewajaran
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul menilai fenomena tanah ambles yang terjadi masih dalam kewajaran. Adapun pertimbangnnya, kejadian tersebut belum membahayakan karena lokasinya jauh dari pemukiman warga.
Baca juga : http://m.harianjogja.com/?p=889473">Tanah Ambles Meluas Warga Dilanda Kekhawatiran
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Sutaryono mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan terkait dengan fenomena tanah ambles. Kendati demikian, laporan yang masuk sebatas pemberitahuan karena hingga sekarang kejadian itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa.
“Masih aman karena lokasi kejadian jauh dari lingkungan permukiman sehingga risiko masih sangat kecil,” katanya, Selasa (30/1/2018).
Meski risiko ancaman masih kecil, namun dia mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati. Ini lantaran, potensi tanah ambles merata di seluruh wilayah Gunungkidul yang mayoritas didominasi kawasan kars.
Guna mengurangi risiko itu, lanjut Sutaryono, BPBD akan terus memperluas jaringah desa tangguh bencana. Hingga sekarang, jumlah desa ini di Gunungkidul ada sekitar 60 desa. Rencananya di tahun ini keberadaannya akan ditambah di 10 titik.
“Diharapkan dengan desa tangguh bencana, warga bisa melakukan penanganan saat terjadi musibah, termasuk di dalamnya saat ada fenomena tanah ambles,” tuturnya.
Lebih jauh dikatakan Sutaryono, selain memperluas jaringan desa tangguh bencana, penanganan fenomena tanah ambles juga dilakukan dengan berkoordinasi dengan BPBD DIY.
“Mereka [BPBD DIY] akan menindaklanjuti dengan menerjunkan tenaga ahli untuk melakukan kajian ilimiah tentang fenomena tanah ambles di Gunungkidul,” kata pejabat yang akan menduduki posisi Kepala Bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah, Dinas Koperasi UKM ini.
Sebelumnya diberitakan, petani di Krambilsawit, Saptosari khawatir potensi meluasnya tanah ambles yang menimpa ladang pertanian milik tiga orang warga. Kekhawatiran ini muncul dikarenakan intensitas hujan yang terus akan menggerus ladang-ladang lain di sekitar lokasi.
Salah seorang petani di Desa Krambilsawit, Parwanto mengatakan, lokasi tanah ambles merupakan ladang milik tiga warga, yakni Harjo Wiyono, Giyono dan Ngadiman. Menurut dia, lokasi amblesan terus meluas seiring hujan yang terus turun.
“Kejadian pertama [tanah ambles] terlih 11 Desember lalu dan luasannya belum seperti sekarang. Kalau saat ini panjangnya sudah mencapai 20 meter dengan dalam lima meter,” katanya kepada wartawan, Senin (29/1/2018).
Menurut dia, pascakejadian, para petani sudah melaporkan ke pemerintah desa. Namun hingga sekarang belum ada tindak lanjut untuk mengatasi tanah ambles tersebut. “Kondisi ini jelas membuat petani khawatir. Untungnya, polisi sudah memasang garis pengaman untuk berjaga-jaga,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Layanan paspor kini hadir di MPP Dhaksinarga Gunungkidul, memudahkan warga tanpa perlu ke Kota Yogyakarta atau Sleman.
SIM keliling Bantul hari ini hadir di Halaman Kantor Kalurahan Wukirsari. Cek jadwal lengkap dan syarat perpanjangan SIM A dan C.
Bedah buku berjudul Budidaya Bawang Merah Asal Biji digelar di Padukuhan Dayakan 2, Kalurahan Kemiri, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul, Rabu (20/5).
Katarak kini banyak menyerang usia muda. Faktor diabetes dan paparan UV jadi penyebab utama, kenali gejala sejak dini.
Garebeg Besar 2026 di Keraton Jogja digelar tanpa kirab prajurit. Prosesi tetap sakral meski format disederhanakan.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.