ASI Bisa Mencegah Bayi Stunting

16 Maret 2018 15:40 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Cegah stunting dengan pemberian ASI eksklusif.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Dinas Kesehatan Gunungkidul berusaha menekan kejadian bayi stunting alias bertubuh pendek. Salah satu upaya yang dilakukan dengan mengampanyekan pemberian air susu ibu (ASI) esklusif selama enam bulan.

Kampanye ini dilakukan dengan melibatkan petugas penyuluh kesehatan, bidan desa hingga petugas posyandu yang ada di setiap desa. Selain itu, untuk pencegahan para ibu hamil juga diminta memeriksakan kandungan secara rutin.

Sekretaris Dinas Kesehatan Gunungkidul Priyanta Madya Satmaka mengatakan, kelahiran bayi stunting masih dapat dilihat di Gunungkidul. Kondisi ini terjadi karena beberapa faktor mulai dari kesehatan reproduksi hingga asupan gizi yang kurang.

Menurut dia, permasalahan bayi stunting termasuk komplek dan penanganan harus dilakukan sejak awal. Sebagai contoh, lanjut Priyanta, para ibu mudah harus memperhatikan pola hidup sehat dan menjaga darah tetap stabil. Kekurangan darah (anemia) bisa menjadi indikasi awal terjadinya stunting. “Proses bayi kena stunting tidak seketika, namun prosesnya lama dari pola hidup saat muda, masa kehamilan hingga pascamelahirkan,” kata Priyanta kepada Harianjogja.com, Kamis (15/3/2018).

Menurut dia, untuk pencegahan bayi stunting dilakukan dengan beberapa tahapan dan disesuaikan dengan kondisi. Namun yang paling penting, lanjutnya, pada saat hamil, para ibu diminta rutin memeriksakan kandungan. Adapun tujuannya agar saat ada gejala ketidaknormalan bisa diketahui sejak awal. “Kalau ada masalah saat hamil bisa dilakukan penanganan dengan memberikan makanan tambahan seperti kancang hijau, telur hingga biscuit dan tablet penambah darah,” ungkapnya.

Ditambahkannya, untuk pencegahan stunting tidak hanya berakhir pada masa kehamilan. Namun saat sudah melahirkan kesehatan bayi akan terus dipantau. Gejala awal stunting bisa terlihat dari panjang bayi yang kurang dari 48 sentimeter dan berat kurang dari 2,5 kilogram. “Kalau ditemukan gejala seperti ini harus ada perhatian khusus, terutama menyangkut asupan gizi yang mencukupi sehingga tumbuh kembang bayi dapat normal,” katanya.

Menurut Priyanta, upaya efektif untuk mencegah stunting adalah dengan memberikan ASI esklusif selama enam bulan. Namun faktanya, kata dia, ibu-ibu di Gunungkidul belum begitu paham karena tingkat pemberian ASI esklusif masih dibawah angka 70%. “Masih ada 30% ibu menyusui yang sering memberikan susu formula dan ini menjadi masalah tersendiri karena bisa memperbesar terjadinya stunting,” tutur mantan Kepala Bidang Pemerintahan Sosial Budaya ini.

http://m.harianjogja.com/?p=902959">Baca juga : Pernikahan Dini Bisa Picu Bayi Stunting

Dinas kesehatan pun terus berupaya melakukan penyuluhan dan menggalakan kampanye pentingnya pemberian ASI esklusif selama enam bulan. Selain itu, dalam kampanye itu juga diberikan penyuluhan tenang cara merawat bayi yang baik dan benar. “Kami optimalkan melalui tenaga penyuluh kesehatan, bidan hingga petugas posyandu yang ada,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Kartini mengatakan, stunting bukan hal yang baru karena setiap tahun ada sekitar 6.200 balita yang mengalami kelainan ini. Menurut dia, selain masalah gizi, tumbuh kembang yang tak sempurna jugas disebabkan karena adanya fenomena pernikahan dini.

http://m.harianjogja.com/?p=902899">Baca juga : Data Bayi Stunting di Gunungkidul Bikin Miris

Dari data yang ada, lanjut Kartini, pernikahan dini pada usia 14-18 tahun berkontribusi terhadap 30% jumlah bayi stunting. “Ibu muda yang menikah dini sangat berisiko karena alat reproduksi yang dimilik masih belum sempurna sehingga rawan melahirkan bayi stunting. Jadi, upaya pencegahan tidak hanya masalah gizi, namun juga bagaimana menyadarkan agar pernikahan dini dapat dicegah,” katanya.