Ratusan Rumah di Bantul Rusak akibat Puting Beliung, Hanya 10 yang Dibantu Perbaikan

Warga bergotong-royong memperbaiki atap rumah di Dusun Sorowajan, Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Rabu (25/4/2018). - Harian Jogja/David Kurniawan
27 April 2018 09:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul hanya memberikan bantuan perbaikan 10 rumah korban bencana angin puting beliung di wilayah Banguntapan, dua hari lalu.

Bencana angin kencang yang terjadi Selasa (24/4/2018) siang lalu, menyebabkan 134 rumah rusak bagian atapnya. Selain rumah tinggal, angin juga menyapu atap satu rumah ibadah, dan satu tempat pendidikan taman kanak-kanak. Kerusakan rumah itu tersebar di tiga pedukuhan, yakni Sorowajan, Karangjambe, dan Karangbende, Desa Banguntapan, Kecamatan Banguntapan.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik, BPBD Bantul, Suharno mengatakan dari 134 rumah yang rusak, ada 110 rumah yang perlu mendapat bantuan perbaikan. Namun sebagian besar pemilik rumah sudah memperbaiki sendiri. "Hanya 10 rumah yang tidak mampu memperbaiki karena kondisi keluarga yang kurang mampu," kata dia, Kamis (26/4/2018).

BPBD Bantul sudah mengirimkan bantuan berupa material bangunan untuk memperbaiki 10 rumah tersebut. Perbaikan rumah sudah mulai dilakukan personel BPBD, relawan bencana, TNI-Polri, bersama masyarakat sekitar. Selain bantuan material bangunan, pihaknya juga memberikan bantuan logistik selama proses perbaikan rumah hingga selesai.

Suharno berujar, bantuan perbaikan rumah melalui anggaran kedaruratan BPBD, karena kerusakan masuk kategori ringan. Jika kerusakan berar, biasanya BPBD akan menyampaikan ke Bupati Bantul untuk dibantu melalui dana tidak terduga, seperti bencana banjir November tahun lalu.Ia berharap masyarakat untuk tetap waspada mengingat masa pancaroba masih berlangsung hingga beberapa hari ke depan sesuai perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY.

"Kalau sekitar rumah ada pohon besar yang terlalu rindang supaya dipangkas supaya tidak tumbang diterpa angin," kata Suharno. Selain itu pihaknya juga sudah meminta Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) yang ada di desa-desa untuk tetap siaga.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIY Agus Sudaryatno mengatakan kondisi atmosfir saat ini hingga beberapa hari ke depan terindikasi mengalami peningkatan dan terdeteksi adanya aliran udara basah dari Samudera Hindia ke wilayah Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan udara hangat lembab labil sehingga berpotensi mengakibatkan hujan dengan intensitas lebat disertai kilat, petir, dan angin kencang di beberapa wilayah di DIY.

Pihaknya mengimbau untuk waspada potensi genangan, banjir, longsor. "Waspada juga terhadap kemungkinan hujan disertai angin yang menyebabkan pohon maupun baliho tumbang," kata Agus.