Dies Natalis UNSA ke-28, Astrid Soroti Makna Estafet Antargenerasi
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
Sopir dan pedagang tengah bongkar muat buah melon di Pasar Giwangan, Senin (2/4) malam. (JIBI/Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara)
Harianjogja.com, JOGJA--Pemkot Jogja terus berupaya meningkatkan branding seluruh pasar tradisional. Branding pasar tersebut disesuaikan dengan potensi atau karakter yang menjadi ciri khas pasar.
Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengatakan branding pasar tersebut dilakukan untuk membedakan dengan pasar tradisional lainnya. Hal itu diharapkan dia bisa mendongkrak perekonomian pedagang.
“Saat ini, masyarakat masih berpendapat bahwa semua pasar tradisional itu sama. Padahal, setiap pasar tradisional sebenarnya memiliki keunikan dan karakter masing-masing," kata Heroe pekan lalu.
Untuk menghapus image tersebut, Pemkot terus memberikan dan meningkatkan branding pasar sesuai dengan potensinya masing-masing. Dengan begitu pasar tradisional bisa tetap bisa berkembang.
Branding yang diberikan Pemkot terhadap pasar tradisional ini, kata Heroe, dilakukan berdasarkan produk unggulan yang dijual di pasar tersebut.
Dia mencontohkan beberapa pasar tradisional di Jogja sudah memiliki branding yang kuat karena produk yang dijual unik. Sebut saja Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasthy). “Saat membutuhkan tanaman hias, masyarakat datangnya pasti ke Pasthy. Ini karena Pasthy sudah menjadi ikon untuk transaksi tanaman hias atau satwa,” katanya.
Begitu pula dengan Pasar Giwangan yang memiliki keunggulan sebagai pasar buah dan sayur, sedangkan Pasar Kranggan dikenal dengan ragam jajan pasar, serta Pasar Terban dikenal sebagai pusat penjualan ayam.
“Upaya untuk memberikan branding terhadap pasar tradisional akan dikembangkan ke pasar-pasar lain. Di Kota Jogja ada 30 pasar tradisional,” katanya.
Salah satu pasar tradisional yang baru saja mendapatkan branding itu adalah Pasar Ngasem. Pasar yang sudah direvitalisasi ini dikembangkan sebagai pusat kerajinan dan budaya.
Begitu pula Pasar Kotagede akan dikembangkan sebagai pusat makanan tempo dulu. “Selain menyediakan produk yang unik sesuai branding yang disandang, pasar juga tetap menyediakan kebutuhan dasar lain untuk masyarakat,” katanya.
Pemberian branding yang dilakukan Pemkot terhadap pasar tradisional diikuti dengan kesiapan pedagang dan manajemen pengelolaan pasar yang baik. "Kualitas produk harus benar-benar dijaga, begitu pula dengan tempatnya harus dijaga kuat. Kalau tidak kuat, maka pasar tidak akan mampu mempertahankan brand yang dimiliki," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
RSUD Muntilan menguji Dashboard DIAMOND di empat instalasi untuk mengintegrasikan pelaporan, memantau kinerja, dan mendukung keputusan berbasis data.
Kapolri Suyudi Ario Seto memimpin sertijab Irwasum Polri dan empat Kapolda, termasuk pejabat baru untuk Metro Jaya, Maluku, Jatim, dan Bali.
Bulog menyebut harga gabah hingga Rp9.000 per kg dan terbatasnya panen memicu kenaikan harga beras. Sebanyak 300.000 ton beras premium disiapkan.
Kemenkeu mencatat realisasi bansos Rp115,8 triliun per September 2026, mencakup PKH, Kartu Sembako, PIP, KIP Kuliah, dan PBI JKN.
PSIM Jogja menjamu Persija Jakarta di SSA, Sabtu (10/10/2026), dengan misi meraih kemenangan pertama di Super League 2026/2027.