Ini Gerakan Olahraga Setelah Bangun Tidur agar Tubuh Tetap Bugar
Coba 4 gerakan olahraga ringan setelah bangun tidur selama 5–10 menit untuk membantu tubuh lebih bugar, lentur, dan siap beraktivitas.
Nilam Permata Sari (kanan) dan Puri Paramita Wulandari (kiri) meneliti di Laboratorium Terpadu UII, Jumat (6/7/2018) lalu. /Harian Jogja-Sunartono
Harianjogja.com, SLEMAN - Tiga mahasiswa Farmasi Fakultas MIPA Universitas Islam Indonesia (UII) berhasil mengembangkan penelitian ekstrak Daun Karamunting sebagai obat antidiabetes. Para peneliti muda itu menemukan tumbuhan langka itu dari kawasan Lereng Merapi.
Ketiga mahasiswa tersebut adalah Nilam Permata Sari dan Puri Paramita Wulandari keduanya dari Prodi Farmasi angkatan 2015 dan Rismanada Julia Putri angkatan 2016. Adapun judul penelitiannya yaitu Pengembangan Nanoherbal SNEEDS (Self Nano Emulsifiying Drugs Delivery System) Ekstrak Daun Karamunting sebagai Terapi Antidiabetes.
Nilam Permata Sari menceritakan awal mula meneliti daun itu karena mempelajari sejumlah referensi tentang daun karamunting. Namun keberadaan tumbuhan liar ini hanya dapat ditemukan di Pulau Kalimantan. Tetapi secara tidak sengaja kemudian menemukan di lereng Merapi.
Penelitian itu dilakukan dengan lebih dahulu mencuci daun tersebut kemudian dikeringkan melalui proses oven selama tiga hari dengan suhu 50 derajat celcius dan dihaluskan menjadi serbuk.
Setelah menjadi serbuk, melalui proses maserasi menggunakan pelarut etanol 96% untuk mendapatkan senyawa flavonoid yang terdapat dalam ekstrak daun tersebut.
"Proses ekstraknya pakai alat rotary evaporator untuk memisahkan antara larutan dengan ekstrak yang kami ambil sampai kental baru dibuat sediaan. Karena kami pakai nano emulsi jadi ada tiga bagian ada minyak, surfaktan, kosurfaktan," katanya, Jumat (6/7/2018).
Ia menambahkan proses membuat sediaan butuh kecermatan saat mereaksikan bahan-bahan, dengan mencampurkan satu per satu secara bergantian antara ekstrak daun karamunting dengan tiga bagian seperti minyak, surfaktan dan kosurfaktan. Karena jika dicampurkan secara bersamaan dikhawatirkan justru tidak jadi.
Tim menguji kuantitatif untuk mencari kecocokan jenis minyak, surfaktan dan kosurfaktan yang akan digunakan.
"Itu untuk mencari yang paling cocok, paling larut, setelah itu baru dibuat sediaan. Prosesnya mencampurkan sebenarnya hanya 15 menit untuk satu sampel. Karena banyak sampel jadi harus banyak pertimbangan. Kalau total penelitian sekitar tiga bulan," ujarnya.
Puri Paramita Wulandari menambahkan berdasarkan observasinya tidak banyak masyarakat memahami manfaat daun karamunting yang tumbuh liar di lereng Merapi.
Pada awalnya ia berencana mengimpor daun Karamuntin dari Kalimantan tetapi secara kebetulan ia bersama tim mengikuti kegiatan lapangan Pusat Studi Herbal Farmasi UII dan kebetulan menemukan tumbuhan tersebut di lereng Merapi.
Ia menambahkan pada penelitian serupa hanya sebatas mencari senyawa zat aktif dan pengujian pada hewan menggunakan fraksi ekstrak etanol daun Karamunting sebagai antidiabetes.
Namun belum ada pengembangan menjadi suatu sediaan. Karena itu timnya merasa penting untuk mengembangkan suatu inovasi formulasi sediaan SNEDDS dari ekstrak daun karamunting atau Rhodomyrtus tomentosa (Ait.) Hassk. "Selama ini belum ada dalam bentuk sediaan, kalau nanti dikembangkan jadi obat bisa dalam bentuk oral," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Coba 4 gerakan olahraga ringan setelah bangun tidur selama 5–10 menit untuk membantu tubuh lebih bugar, lentur, dan siap beraktivitas.
Pembangunan Jembatan Garuda di Gunungkidul bertambah menjadi sembilan titik. Program ini ditargetkan mencapai 11 jembatan pada 2026.
Pemkab Sleman bersama Satgas Pangan Polresta Sleman memperkuat pengawasan stok dan harga bahan pokok guna menjaga stabilitas pasokan pangan di wilayah Sleman.
Penyaluran Dana Penguatan Modal Sleman 2026 mencapai Rp6,3402 miliar atau 32,31% dari total plafon Rp19,625 miliar.
Program padat karya di Gunungkidul digelar di 65 titik pada 2026 dengan anggaran Rp100-200 juta per lokasi untuk membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi
BMKG mengimbau pengelola PLTA mengantisipasi lonjakan beban listrik selama El Nino. Fenomena ini diperkirakan mencapai puncak pada Desember 2026 hingga Januari