Advertisement
Stabilkan Harga Daging Ayam, Pemkab Siapkan Operasi Pasar
Pedagang ayam potong di Pasar Colombo, Condongcatur, Depok, menunggu pembeli yang semakin berkurang lantaran semakin tingginya harga daging ayam, Senin (23/7 - 2018). Harian jogja/Irwan A.Syambudi
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Melonjaknya harga daging ayam potong yang terjadi selama beberapa hari terakhir sangat merugikan masyarakat. Untuk menstabilkan harga, pemerintah perlu segera menggelar operasi pasar daging ayam murah.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman, Tri Endah Yitnani, mengatakan salah satu upaya yang bakal dilakukan untuk menstabilkan harga daging ayam potong adalah dengan operasi pasar. "Kami masih menunggu informasi operasi pasar dari Kementerian Perdagangan dan Disperindag DIY. Baru kemudian kami konfirmasi waktunya [operasi pasar]," kata dia, Rabu (25/7/2018).
Advertisement
Selain operasi pasar, upaya lain yang bisa dilakukan untuk menekan lonjakan harga daging ayam potong adalah dengan mendongkrak produksi ayam potong. Disperindag Sleman berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman agar menggenjot produksi ayam potong.
Di sisi lain, dengan masih tingginya harga ayam Disperindag mengimbau agar masyarakat lebih bijaksana, mencari alternatif makanan sumber protein lainnya. "Imbauan ke masyarakat untuk konversi protein nabati ayam ke sumber protein yang lain misalnya ikan," kata dia.
Berdasarkan pantauan harga yang dilakukan Disperindag Sleman pada Rabu, harga daging ayam broiler terendah yakni Rp38.000 per kilogram dan harga tertinggi mencapai Rp45.000. Dari pantauan yang dilakukan di Pasar Gamping, Tempel, Pakem, Godean, Prambanan, dan Sleman, harga rata-rata harga daging ayam per kilogram daging yakni Rp41.500.
Menurut salah seorang peternak, tingginya harga daging ayam dipengaruhi oleh cuaca ekstrem. Peternak ayam potong asal Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Sri Suwati, mengungkapkan kenaikan harga daging ayam tidak lepas dari sulitnya pemeliharaan. Menurutnya akhir-akhir ini terjadi perubahan suhu yang terlalu ekstrem antara siang dan malam, sehingga ayam di kandang sulit untuk berkembang secara optimal dan penetasan juga menjadi sulit. "Ayam susah hidup, sehingga dampaknya harga daging ayam mahal," kata dia.
Sri yang memelihara sekitar 3.500 ekor ayam potong mengaku akhir-akhir ini ayam peliharaannya gampang mati. "Tidak sampai gagal panen, namun jika dibandingkan dengan masa pemeliharaan sebelumnya, saat ini tingkat kematian ayam lebih tinggi," ujarnya.
Dengan situasi seperti ini, mau tidak mau dia harus mengeluarkan biaya lebih. Agar ayam tidak mati, Sri mengaku harus membeli lebih banyak obat. Selain itu biaya operasional lainnya seperti untuk membeli sekam dan penghangat agar ayam tidak kedinginan juga menjadi membengkak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Update KRL Jogja ke Solo Hari Ini 4 April 2026, Ini Jamnya
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jamnya
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jam Lengkapnya
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
Advertisement
Advertisement









