Kopertis DIY Terus Diupayakan Merger Kampus Gurem

Ilustrasi wisuda mahasiswa. (Reuters - Fabian Bimmer)
26 Juli 2018 11:10 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kopertis Wilayah V Yogyakarta terus mengupayakan merger sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS) gurem di DIY agar manajemennya sehat. Satu kampus di DIY akan melebur menjadi satu secara nasional di bawah yayasan. Namun DIY akan berdiri satu PTS lagi dari yayasan berbeda yang juga hasil dari merger secara nasional.

Koordinator Kopertis Wilayah V Yogyakarta Bambang Supriyadi menyatakan hingga jelang tahun akademik 2018/2019 dimulai, belum ada perkembangan signifikan terkait merger kampus lokal di DIY. Semua masih dalam proses negoisasi internal yayasan dan upaya memenuhi segala persyaratan perubahan bentuk ke Kemenristekdikti. Kopertis terus mendorong kampus tersebut agar memilih merger demi meningkatkan kualitas ketimbang kuantitas.

"Jadi sampai saat ini belum berubah, semua masih proses. Kami terus mengupayakan, kalau yang sudah berhasil [merger] kan Unjani," kata dia, Rabu (25/7/2018).

Meski demikian, ada satu kampus di Jogja yang sudah dimerger dengan sejumlah kampus serupa di berbagai daerah di Indonesia, yaitu Bina Sarana Informatika (BSI) Jogja. Bambang menegaskan BSI Jogja tidak berdiri sendiri lagi seperti sebelumnya, tetapi akan menjadi Program Studi Diluar Kampus Utama (PSDKU) yang kampus pusatnya di Jakarta. Merger BSI dilakukan melibatkan sekitar 21 kampus seluruh Indonesia.

"Namanya Universitas BSI. Kampus utamanya di Jakarta dan BSI Jogja menjadi salah satu PSDKU-nya selain beberapa daerah lain," katanya.

Selain BSI, kata Bambang, akan berdiri sebuah kampus di Jogja yang berada di bawah Yayasan Mahakarya dan menjadi PTS baru yang terdiri dari beberapa kampus lain dari disiplin ilmu ekonomi, bisnis dan pariwisata. Saat ini Mahakarya sudah memiliki kampus di Jakarta dan Palembang yang keduanya direncanakan menjadi PSDKU, sedangkan pusatnya akan berdiri di Jogja.

"Sebenarnya itu merger antara Mahakarya, kemudian dengan dua PTS di Jogja yang satu dari unsur ekonomi satunya lagi dari pariwisata serta ada yang dari Jakarta dan Palembang," ucapnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Bidang Penjaminan Mutu Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) DIY Johanes Eka Priyatama menyatakan merger dari sejumlah institusi yang berbeda memang bukan perkara sederhana. Karena ada dampak, mulai dari naik turunnya jabatan seseorang di organisasi baru.

Jika merger dilakukan dengan paksaan, kecil kemungkinan bisa berjalan dengan baik. Sehingga perlu ada program pemberian intensif oleh pemerintah yang bisa menjadi jalan tengah dalam menggabungkan dua organisasi yang memiliki tradisi berbeda.

"PTS bisa berjuang untuk kepentingan yang lebih besar, muncul kerelaan untuk dimerger kalau ada insentif atau ada hibah dan sejenisnya yang bisa membantu. Itu bisa menjadi solusi atas persoalan kualitas yang dihadapi," jelas dia.