Advertisement
Terus Tumbuh, Begini Kondisi Kubah Lava Baru di Puncak Merapi
Foto kubah lava baru Merapi - Ist/BPPTKG
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA- Saat ini kubah lava yang terbentuk di Gunung Merapi masih stabil dengan laju pertumbuhan yang masih rendah. Laju pertumbuhan lava kurang dari 20.000 m3 perhari.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida kubah lava saat ini dalam kondisi stabil dengan laju pertumbuhan yang masih relatif rendah.
Advertisement
Volume kubah lava per 23 Agustus sebesar 23.000 m3, dengan pertumbuhan rata-rata 2.700 m3 perhari. Hal itu dihitung sejak fase erupsi magmatik dengan munculnya kubah lava baru sejak 11 Agustus 2018 lalu. "Pertumbuhan kubah lava baru masih di bawah 20.000 m3 per hari," katanya, Sabtu (25/8/2018).
Hanik menyebut hasil analisis morfologi berdasarkan foto dari berbagai sektor menunjukkan tidak terjadi perubahan morfologi sekitar puncak. Adapun grafik kegempaan dalam minggu ini tercatat 46 kali gempa dengan embusan (DG) sebanyak 12 kali gempa Vulkano-Tektonik dangkal (VTB), 29 kali gempa Fase Banyak (MP), 64 kali gempa Guguran (RF), 52 kali gempa LF dan 40 kali gempa Tektonik (TT).
BACA JUGA
"Seiring dengan pertumbuhan kubah lava, kegempaan pada minggu ini relatif lebih intensif dari minggu sebelumnya terutama untuk gempa LF, RF dan DG," jelasnya.
Pengukuran EDM sejak 17 hingga 23 Agustus untuk baseline RB1 (Barat Laut) menunjukkan pemendekan nilai jarak tunjam sebesar 3 cm atau 0,4 cm perhari, sedangkan baseline RK2 di sektor selatan masih fluktuasi dengan rata-rata jarak tunjam sebesar 6506,94 m. Data pemantauan baseline GPS Stasiun Selo–Pasarbubar menunjukkan jarak sebesar 4259,21 m.
"Deformasi Merapi secara instrumental menggunakan EDM mulai menunjukkan perubahan berupa inflasi yang masih terhitung kecil (kurang dari 1 cm perhari) di sektor Barat Laut, sedangkan deformasi menggunakan GPS belum menunjukkan perubahan yang signifikan," paparnya.
Pihaknya juga mengukur emisi SO2 di sekitar lokasi. Dalam minggu ini pengukuran DOAS (Differential Optical Absorption Spectroscopy) menghasilkan nilai rata-rata emisi SO2 puncak G. Merapi sebesar 77,33 ton perhari. Kondisi tersebut, kata Hanik masih dalam kisaran normal.
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental, kata Hanik aktivitas vulkanik Merapi masih cukup tinggi dan ditetapkan dalam tingkat aktivitas dan hingga kini masih dalam status Waspada level II. BPPTKG merekomendasikan agar kegiatan pendakian Gunung Merapi tidak dilakukan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan Kita ikuti perkembangan aktivitasnya. Data akan selalu kami update. Yang jelas magma Merapi sudah ada di permukaan dengan ditandai tumbunya kubah lava," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- Jenazah 2 Prajurit Gugur di Lebanon Tiba di Lanud Adisutjipto
- Belanja Pegawai Bantul Tembus 34 Persen Rekrutmen Dipangkas
- Tangis Pecah Saat Jenazah Prajurit TNI Tiba di Kulonprogo
Advertisement
Advertisement









