FEATURE: Mengusir Spirit Jahat Penyebab Kegelisahan Hidup

Ruwatan Sukerta - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
25 September 2018 16:25 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Ruwatan Sukerta diselenggarakan secara gratis oleh Badan Pelestarian Nilai Budaya DIY. Ratusan warga memadati Pendopo Ageng Tamansiswa membawa berbongkah-bongkah harapan untuk kelancaran hidup anak mereka. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Salsabila Annisa Azmi.

Tiga hari sebelumnya, putra sulung Heru Suprianto memotong rambut yang tumbuh di bagian atas telinganya. Potongan rambut itu lantas dikemasnya bersama potongan pakaian dalamnya yang dikenakannya saat bekerja. Keduanya dibungkus sebuah kardus kecil.

Setelah melapisi kardus dengan beberapa lakban transparan, dia langsung memaketkannya ke Kota Jogja, tepatnya ke kediaman kerabatnya, untuk dibawa sang ayah ke acara Ruwatan Sukerta Gratis di Pendopo Ageng Tamansiswa, Minggu (23/9/2018).

Putra Heru yang bekerja di Kementerian Perdagangan itu kini berusia 27 tahun. Telah lama dia ingin pulang kampung sambil mengikuti ritual buang sial. Namun jadwal kerja super sibuk di kota metropolitan menahannya. Pulang sehari saja dia tidak bisa. Dia tidak menyerah, pakaian dalam dan potongan rambut akhirnya mewakili keberadaannya di Ruwatan Sukerta.

Iya itu, langsung semangat katanya mau maketin pakaian dalam dan rambut. Ya, oke, tunggu Pa, aku paketin aja, tetep pengin ikut, kata Heru tertawa kecil sambil meletakkan tangannya di telinga kiri, memeragakan ketika dia berbicara di telepon dengan anak sulungnya.

Paket berisi barang tak lazim itu sampai di Kota Jogja dua hari sebelum ruwatan massal. Heru yang bekerja di Bandung dan baru saja tiba di Kota Jogja langsung membawa paket titipan anaknya itu saat hari H.

Di percakapan telepon beberapa hari lalu, anak sulungnya sangat berharap pakaian dalam dan sebagian rambut yang dikirimnya bisa melarung kesialannya melalui aliran Sungai Opak. Dia pekerjaannya di kantor Kementerian Perdagangan bisa berjalan lancar dan rezekinya mulus.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan anak-anak saya, tetapi mereka, dan tentunya saya juga, ingin mereka lancar rezekinya, semakin jadi anak baik, dihindarkan dari malapetaka. Tentu saja sekalian melestarikan budaya,kata Heru.

Sukerta, dalam kepercayaan Jawa, adalah aura negatif dan spirit jahat. Sukerta muncul karena dosa masa lalu. Sukerta mengakibatkan hidup kita dirungkup kegelisahan tiada henti sehingga sukses tak pernah datang.

Beberapa pekan sebelumnya, Heru juga turut mengajak keluarga besarnya. Kakak dan adiknya yang berasal dari Solo ikut ritual itu. Dari keluarga Heru, ada empat kerabat yang mendaftarkan anak-anaknya Ruwatan Sukerto. Ya kami sekalian silaturahmi saja, sambil melestarikan budaya, kata Heru.

Dari barisan kursi lipat merah, matanya tak lepas mengamati anak keduanya takzim mendengarkan kidung bersama peserta lain di bagian belakang pendopo.

Di sisi timur tempat Heru duduk, sepasang suami istri mempersiapkan pakaian ganti berupa kemeja dan celana hitam yang dikemas dalam sebuah tas ransel abu-abu. Wigati, 55, mengatakan baju ganti itu untuk putra semata wayangnya yang kini berusia 25 tahun. Sehari-hari anaknya bekerja sebagai sekuriti di sebuah perusahaan swasta Kota Jogja.

Anak saya cuma satu. Baik sekali sama saya dan suami saya, selalu nurut. Karena cuma satu, saya ingin dia dilindungi dari bahaya. Apalagi kerjaannya begitu. Ya jangan sampai kenapa-napa, harapannya kalau diruwat bisa dihindarkan dari kesialan, kata Wigati.

Suami Wigati, Sardiman, yang sejak awal hanya menyimak sambil merapikan baju ganti anaknya mulai bercerita panjang lebar.

Saya pekerjaan buruh, sudah dari dulu sebenarnya ingin menjaga anak saya dengan ruwatan. Tetapi kan kalau biaya sendiri mahal, bisa sampai jutaan. Biaya dalangnya saja, katanya, bisa sampai ratusan juta. Akhirnya selama puluhan tahun ya sempat juga. Kalau mbayar enggak bisa kami, kata Sardiman.

Alunan gending masih mengiringi kidung. Beberapa orang menunduk sambil merenung, beberapa orang tua mengelilingi pendopo untuk mengambil foto anak mereka masing-masing yang tengah berbalut kain mori putih dan handuk.

Mereka yang percaya masih punya Sukerta sebelumnya datang bersama keluarga untuk melakukan sungkeman. Sebanyak 274 Sukerta didampingi 164 kepala keluarga menjalani kirab mengelilingi pendopo. Sang dalang, Ki Mas Wedhana Cermo Sutedjo, memaparkan filosofi dari kirab. Artinya para Sukerta dan pendampingnya harus minta izin terhadap penunggu tempat upacara adat.

Kirab yang dilakukan di sekeliling pendopo pun rampung. Tangan sang dalang langsung memainkan lakon-lakon pewayangan Murwakala. Kisahnya tentang Batara Kala, sang raksasa yang tidak senonoh. Dia berbuat zina di atas lembu. Kutukan pun datang kepadanya. Cerita pewayangan itu mengandung pesan agar para Sukerta tidak berbuat buruk dan selalu menjaga nafsunya dari hal-hal yang merugikan sesama manusia.

Baru kemudian kidungan. Dalam kidungan itu termuat makna perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga mati, buat perenungan, kata dia.

Para Sukerta langsung mengganti pakaian dan duduk bersaf di belakang layar panggung pewayangan untuk mendengarkan kidungan. Siraman dengan kembang setaman kemudian dilakukan oleh sang dalang.

Sebelum siraman untuk membersihkan diri dari sifat buruk, rambut dan kuku dipotong dulu, sebagai simbol buang sial, kata Ki Mas Wedhana Cermo Sutedjo.

 Pakaian-pakaian para Sukerta lengkap dengan helai rambut dan potongan kuku kemudian dibungkusnya menggunakan sarung. Kumpulan kain tersebut selanjutnya dihanyutkan ke aliran Sungai Opak.

Ada juga tadi yang datangnya hanya pakaian dalam dan potongan rambut, itu sebenarnya juga bisa mewakili yang tidak bisa datang, kata dia.

Tiga hingga empat sarung biasanya dipikulnya seorang diri. Sebelum membuang seluruh kesialan dan sifat buruk yang melekat pada pakaian-pakaian itu, Ki Mas Wedhana Cermo Sutedjo memberi doa-doa khusus.

Tak ada ritual tertentu yang dilakukan. Dia hanya berdoa dan membuang seluruh kain itu ke Sungai Opak.

Saya sering mendapat cerita dariorang yang ikut Ruwatan Sukerta, memang setelah itu mereka merasa lebih lega, lebih baik dalam berperilaku. Sebenarnya itu sugesti baik yang masuk ke dalam diri mereka pada saat seluruh rangkaian adat. Pada intinya semua tergantung pengendalian diri masing-masing orang.”

Kepala Balai Pelestari Nilai Budaya DIY Zaimul Azzah mengatakan sebelumnya Ruwatan Sukerto pernah diadakan di Pendopo Ageng Tamansiswa. Namun biaya ditanggung seluruhnya oleh masyarakat.

Karena mahal, kemarin hanya 60 yang mengikuti. Saat ini gratis, peminat langsung membeludak. Ada juga yang dari luar DIY. Ini menandakan DIY masih sangat kental budaya Jawa, kata Azzah.