Otonomi Daerah DIY Didorong Berbasis Keadilan dan Kearifan Lokal
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Bregada melaksanakan upacara Ganti Dwaja, di Pura Pakualaman, Sabtu (29/11/2025)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Atraksi wisata upacara Ganti Dwaja kembali digelar di Pura Pakualaman, Jogja, Sabtu (29/11/2025). Didukung oleh Dinas Pariwisata DIY, Ganti Dwaja ini turut diramaikan oleh sejumlah pertunjukan seni budaya.
Ratusan masyarakat dan wisatawan tampak antusias menyaksikan upacara adat yang digelar setiap satu selapan sekali, yakni pada Sabtu Kliwon ini. Rangkaian kegiatan dimulai sekitar pukul 15.30, diawali dengan apel Bregada Plangkir dan Bregada Lombok Abang di dalam Pura Pakualaman. Kemudian mereka berjalan keluar secara berurutan, berbaris mengelilingi Pura Pakualaman, lalu kembali masuk.
Pada Ganti Dwaja kali ini, Bregada Lombok Plangkir mengganti Bregada Lombok Abang, yang ditandai dengan pergantian bendera atau dwaja di gerbang Pura Pakualaman, dari yang sebelumnya berwarna hitam menjadi merah. Bregada Plangkir akan berjaga selama 35 hari ke depan.
Mengiringi upacara ini, di Alun-Alun Sewandanan digelar pertunjukan seni tradisional. Kali ini, Sanggar Seni Beksa Srawung Budaya dari Pajangan, Bantul, tampil menghibur para pengunjung. Mereka secara atraktif menampilkan lakon Beksan Perang Kembang.
Selain kelompok ini, panggung juga diisi dengan Reyog Wayang Budaya Remaja dari Sanggar Seni Hamong Kridha Budaya dari Benyo, Sendangsari, Bantul. Para pengunjung tampak antusias menyaksikan bagaimana upacara adat ini berlangsung.
Salah satu pengunjung, Arif, merupakan wisatawan dari Purwokerto yang sedang berlibur di Jogja. Ia bersama beberapa temannya mengunjungi sejumlah destinasi budaya, salah satunya Pura Pakualaman. “Kebetulan lagi di sekitar sini, terus penasaran mau lihat upacara ini,” katanya.
Ia mengabadikan atraksi wisata ini dengan kamera ponselnya. Menurutnya, menyaksikan upacara Ganti Dwaja menjadi pengalaman unik dan berharga. “Karena Jogja memang menjadi pusat kebudayaan, jadi ini salah satu wujudnya,” katanya.
Koordinator Atraksi Wisata Budaya Kadipaten Pakualaman, RM Donny Megananda, menjelaskan Ganti Dwaja merupakan peringatan hari neton atau kelahiran tahun penanggalan Jawa dari KGPAA Paku Alam X. “Digelar setiap 35 hari sekali, setiap Sabtu Kliwon,” katanya.
Ia berharap melalui upacara adat Ganti Dwaja ini dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus menyemarakkan Alun-Alun Sewandanan dengan kesenian rakyat dan UMKM. “Khusus untuk pelaksanaan Ganti Dwaja ini masyarakat diperkenankan untuk berjualan kuliner,” katanya.
Hal ini terlihat dengan banyaknya stan UMKM kuliner yang berjualan di sekitar Alun-Alun Sewandanan pada setiap pelaksanaan upacara Ganti Dwaja. Atraksi wisata ini bisa menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di sekitar Pura Pakualaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 17 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta, tersedia keberangkatan pagi sampai malam hari.
Manchester City juara Piala FA 2026 setelah mengalahkan Chelsea 1-0 di final Wembley lewat gol Antoine Semenyo.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 17 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur, tersedia keberangkatan pagi sampai malam.
Pelatih PSIM Yogyakarta Jean-Paul van Gastel menargetkan kemenangan saat menghadapi Madura United di Stadion Sultan Agung Bantul.
Toyota mencatat permintaan Veloz Hybrid menembus 10 ribu unit di tengah kenaikan harga BBM dan meningkatnya minat mobil hemat bahan bakar.