Advertisement

Cuaca Tak Menentu, Gabah Petani Gunungkidul Dijemur di Dalam Rumah

David Kurniawan
Sabtu, 28 Februari 2026 - 04:17 WIB
Abdul Hamied Razak
Cuaca Tak Menentu, Gabah Petani Gunungkidul Dijemur di Dalam Rumah Kismaya, warga Pampang di Kapanewon Paliyan sedang membolakblikan gabah yang dijemur didalam rumah agar cepat kering, Jumat (27/2/2026) Harian Jogja - David Kurniawan

Advertisement

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Cuaca hujan yang masih sering terjadi dalam beberapa hari terakhir menjadi tantangan bagi petani di Gunungkidul. Kondisi ini membuat proses penjemuran gabah hasil panen terhambat dan berpotensi memengaruhi kualitas beras.

Salah seorang petani di Kalurahan Bleberan, Rini Iswandari, mengatakan hasil panen pada musim tanam pertama tahun ini tergolong baik. Produksi gabah cukup optimal karena serangan hama relatif minim dan proses panen berjalan lancar.

Advertisement

Namun, persoalan muncul setelah panen. Gabah yang seharusnya segera dijemur agar cepat kering justru sulit ditangani akibat hujan yang turun hampir setiap hari.

“Gabah tidak mungkin dijemur di tempat terbuka. Kalau dipaksakan, malah bisa semakin basah karena hujan,” kata Rini, Jumat (27/2/2026).

Sebagai solusi sementara, Rini memanfaatkan lantai rumah untuk menjemur gabah. Meski tanpa sinar matahari langsung, cara tersebut dinilai paling aman untuk mencegah gabah membusuk.

“Kami jemur di dalam rumah. Supaya cepat kering, gabah sering dibolak-balik dan dibantu kipas angin,” ujarnya.

Kondisi serupa dialami Kismaya, petani asal Kalurahan Pampang. Pada musim panen pertama ini, ia berhasil memanen hampir tiga ton gabah. Namun, cuaca hujan membuat proses pengeringan menjadi tidak optimal.

“Kalau dijemur di luar repot, harus bolak-balik mengemas karena hujan. Akhirnya kami pilih jemur di lantai rumah,” katanya.

Menurut Kismaya, gabah yang disimpan dalam kondisi basah berisiko membusuk atau bahkan tumbuh menjadi benih padi baru. Oleh karena itu, pengeringan tetap harus dilakukan meski dengan cara sederhana.

Ia mengakui teknologi pengering gabah sebenarnya sudah tersedia. Namun, harga alat yang relatif mahal membuat petani kecil belum mampu memilikinya.

“Daripada gabah rusak, lebih aman diangin-anginkan di dalam rumah pakai kipas. Memang lebih lama, tapi kualitas gabah bisa tetap terjaga,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

KPK Bongkar Modus Safe House Kasus Suap Bea Cukai

KPK Bongkar Modus Safe House Kasus Suap Bea Cukai

News
| Sabtu, 28 Februari 2026, 05:27 WIB

Advertisement

Korea Selatan Beri Bebas Visa Grup bagi Turis Indonesia

Korea Selatan Beri Bebas Visa Grup bagi Turis Indonesia

Wisata
| Kamis, 26 Februari 2026, 20:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement