Gerakan Ekstrem Seperti Penyakit

SMA Muhammadiyah Al-Mujahidin, membacakan ikrar antiradikalisme, Senin (14/5). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
29 September 2018 11:10 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA -- Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.

Hal ini disampaikan Rektor UIN Sunan Kalijaga (Suka) Jogja Profesor Yudian Wahyudi dalam kuliah umum bertema Mencegah Pengaruh Ideologi Ekstrimisme di Kalangan Anak Muda Indonesia yang digelar Ikatan Alumni UIN Sunan Kalijaga (Ikasuka), Kamis (27/9/2018).

Menurut Rektor, setidaknya pemerintah harus berani mengatakan Indonesia yang dilandasi Pancasila adalah negara hukum religius dan sekularitas, baik sumber dan tujuannya.

Menurut dia, Pancasila adalah ideologi religius karena muatannya bersifat Illahi dan wadh'i (kekinian). Dengan demikian Pancasila adalah hasil keputusan bersama (ijma/konsensus) dari hukum Tuhan yang kemudian diijtihadkan dengan pemahaman atau konsep baru yang lebih maslahat (sekularitas) dan mengoptimalisasi nilai-nilai lokal.

Pembicara lain, Dirbintibmas Korbinmas Baharkam Polri Brigjen Pol. Edi Setio Budi Santoso mengungkapkan paham ekstremisme banyak menyerang kalangan muda dari berbagai sisi, baik pola pikir, radikal teroris, radikalisasi agama, dan paling masif adalah melalui media. Ekstremisme dalam pandangan dia adalah paham sekaligus tindakan di luar batas nalar dan kesepakatan moral maslahat.

"Kaum muda yang diserang adalah mereka yang memiliki kecenderungan merasa terkucilkan oleh negara dan mudah terdoktrinasi oleh isu global," jelas Edi.

Sekretaris Jenderal Ikasuka Abdur Rozaki dalam sambutanya menjelaskan pemilihan tema Mencegah Pengaruh Ideologi Ekstrimisme di Kalangan Anak Muda Indonesia di latarbelakangi oleh beberapa fenomena yang cukup memprihatinkan akhir-akhir ini. Khususnya adalah wilayah gerakan ekstrem radikal yang ditunjukkan oleh beberapa kelompok yang menghendaki perubahan konstitusi negara dan beberapa paham ekstrem lainnya, yang meliputi wilayah gerakan pemikiran.

Acara ini merupakan gebrakan perdana dari agenda tahunan Ikasuka yang diharapkan mampu membentengi anak muda dalam menjaga dan membela negara.

“Di sisi lain ini merupakan upaya perguruan tinggi Islam negeri dalam mengusung Islam Indonesia sebagai kiblat dunia muslim melalui moderasi Islam," tutur Abdur Rozaki.