Partisipasi dalam Pemilu Dinilai Masih Mini, Difabel Diajak untuk Tidak Golput

Suasana lokakarya Partisipasi Difabel Dalam Pemilu 2019 dalam kegiatan Temu Inklusi di Desa Plembutan, Playen, Gunungkidul, Rabu (24/10/2018). - Harian Jogja/David Kurniawan
25 Oktober 2018 18:37 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Anggota penyandang disabilitas diminta untuk tetap menggunakan hak suaranya di Pemilu 2019. Hal ini disampaikan oleh Faried B Siswantoro, narasumber lokakarya tematik Partisipasi Politik Difabel Dalam Pemilu 2019 yang merupakan kegiatan Temu Inklusi 2018 di Desa Plembutan, Playen.

Menurut dia, anggota difabel harus menggunakan hak suaranya karena hal tersebut ikut menentukan masa depan bangsa. “Partisipasi difabel masih sangat minim. Sebagai contoh, di dalam gelaran pilkada lalu di Gunungkidul partisipasinya hanya 19,5 persen dan Sleman sebesar 7,8 persen dari pemilih difabel yang memiliki hak suara,” kata Faried kepada wartawan, Rabu (24/10/2018).

Mantan anggota KPU DIY ini menuturkan, partisipasi pemilih harus terus didorong. Pasalnya, jika sampai golput maka hak suaranya akan diwakilkan oleh warga yang menggunakan hak pilihnya.

“Jadi jangan golput, karena jika tidak memilih maka tetap ada wakil rakyat yang terpilih berdasarkan suara dari warga yang memilih. Oleh karenanya, lebih baik memilih, tapi dengan catatan memilih orang-orang yang memiliki rekam jejak yang baik dan berani memperjuangkan hak-hak kaum difabel,” tuturnya.

Menurut dia, proses memerjuangkan hak-hak tidak sebatas di dalam gelaran pemilu. Namun perjuangan juga harus melalui para wakil rakyat dengan cara melakukan audiensi untuk mengawal kebijakan yang berpihak kepada difabel.

“Isu-isu berkaitan dengan difabel harus dikawal sehingga ada kebijakan nyata untuk mendukung program tersebut sehingga tidak hanya sebatas wacana,” katanya.

Ketua Kelompok Difabel Desa Wahyuharjo, Lendah, Kulonprogo, Nuryanto mengungkapkan, banyak hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan partisipasi pemilih dalam Pemilu 2019. Menurut dia, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan terkait dengan partisipasi difabel.

“Anggota difabel tidak sama dengan pemilih umum lainnya karena di dalam pelaksanaan membutuhkan fasilitas khusus,” katanya.

Nuryanto mengungkapkan, pada saat pelaksanaan pemilihan banyak anggota difabel dengan skala berat tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Hal itu terjadi karena yang bersangkutan kesulitan untuk sampai di TPS.

“Di dalam sosialisasi dengan KPU Kulonprogo, saya sempat mengusulkan adanya TPS keliling untuk jemput bola anggota difabel yang berat sehingga mereka tetap bisa menggunakan hak pilihnya,” katanya.

Caleg DPR RI dari Dapil DIY yang juga sebagai anggota difabel, Anggiasari Puji Aryati mengaku nekat untuk maju karena ingin mencoba pertarungan menuju Senayan. Menurut dia, sebagai orang yang berasal dari kalangan marjinal ingin membuktikan bisa bersaing dengan caleg lainnya.

“Saya difabel dan saya juga perempuan. Saya ingin maju dan membuktikan bahwa kelompok marjinal juga dapat berjuang untuk menyalurkan aspirasi yang dimiliki,” katanya.