Atasi Kekeringan di Wonosari, Satu dari Dua Sumur Bor Baru Dioperasikan

Komisaris Independen BCA Cyrillus Harinowo bersama Bupati Gunungkidul Badingah, saat meresmikan operasional sumur bor di Ngelorejo, Desa Gari, Kecamatan Wonosari, Rabu (21/11/2018) - Ist/BCA
22 November 2018 23:37 WIB Abdul Hamied Razak Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, JOGJA–Untuk mengatasi masalah air bersih di wilayah Kota Wonosari, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Bakti BCA yang diprakarsai Corporate Social Responsibility (CSR) BCA membangun dua sumur bor baru. Keberadaan sumur tersebut dibuat untuk meningkatkan pelayanan air bersih kepada masyarakat.

Komisaris Independen BCA Cyrillus Harinowo mengatakan pembuatan dua sumur bor tersebut didasarkan pada pentingnya sumber air bagi kehidupan manusia. Melalui program Bakti BCA, pihaknya berinisiatif untuk turut meningkatkan kualitas hidup masyarakat, salah satunya di bidang kesehatan.

"Inisiatif ini diimplementasikan dengan donasi sebesar Rp300 juta untuk Instalasi Sumur Bor ini," katanya melakukan rilis yang diterima Harianjogja.com, Rabu (21/11/2018)

Peresmian Instalasi Sumur Bor tersebut juga dihadiri oleh Executive Vice President Corporate Social Responsibility (CSR) BCA Inge Setiawati, Kepala Pengembangan Bisnis Cabang (KPBC) BCA KCU Jogja Wahyu Hariatmanto, Bupati Gunungkidul Badingah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Gunungkidul Eddy Praptono, serta Kepala Bappeda Gunungkidul Sri Suhartanta di Balai Dusun Karangtengah II, Desa Karangtengah, Wonosari, Gunungkidul.

Cyrillus menuturkan, kedua sumur bor baru tersebut diharapkan mampu meningkatkan pelayanan air bersih kepada masyarakat. Dari pembangunan dua sumur yang sudah rampung dan siap digunakan adalah Sumur Ngelorejo di Desa Gari. Melalui penguatan dan penambahan air baku, pasokan air pun terjamin untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

"Karena air merupakan sumber kehidupan, kami berinisiatif untuk mewujudkan kepedulian dalam rangka menjaga kelestarian air bersih melalui penyediaan sumur bor," kata Cyrillus.

Bencana kekeringan yang melanda Gunungkidul pada Juni 2018 lalu, katanya, juga menjadi latar belakang BCA untuk membantu dan menyediakan air bersih melalui sumur bor ini. Saat itu, kondisi kering tanpa hujan berdampak pada 54 desa dari 11 kecamatan di Gunungkidul. Alhasil, sebanyak 31.607 kartu keluarga (KK) dan 96.523 jiwa terpaksa kesulitan akses air bersih.

"Di sisi lain, kami kian mencermati Gunungkidul menjadi salah satu potensi wisata di Indonesia yang juga menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara," katanya.

Menurutnya, jumlah wisatawan ke Gunungkidul yang pada 2011 sekitar 500.000 orang, dan kini sudah mencapai sekitar 3 juta. Potensi alam seperti 13 situs geopark yang telah masuk jaringan geopark Gunungsewu dan telah ditetapkan UNESCO juga menjadi bentuk keunikan dari Gunungkidul.

"Ini sebuah kebanggan dan kehormatan bagi kami dapat berkontribusi dalam tujuan mulia, menyediakan air bersih melalui sumur bor demi kemajuan hidup masyarakat sekitar yang lebih baik," kata Cyrillus.