Perahu Terbalik di Perairan Kulonprogo, Timpa Nelayan hingga Patah Tulang

Seorang warga tengah memperhatikan kondisi perahu yang rusak seusai terbalik di Pantai Glagah, Desa Glagah, Kecamatan Temon, Selasa (27/11/2018). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
27 November 2018 16:01 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONRPGO- Nasib nahas menimpa seorang nelayan bernama Ngudi Warno, 50, seusai perahu yang ditumpanginya mengalami kecelakaan laut saat hendak mencari ikan di Pantai Glagah, Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Selasa (27/11/2018).

Perahu yang ditumpangi pria paruh baya ini terbalik setelah dihantam ombak di pantai tersebut sekitar pukul 06.00 WIB.
Ngudi mengungkapkan kecelakaan ini bermula sesaat setelah perahu yang ditumpanginya berlayar menuju tengah laut bersama rombongan nelayan lainnya sebanyak lima perahu.

Namun dalam perjalanan terdapat ombak yang menerjang cukup keras. Dia lantas mencoba menghindari ombak tersebut dengan membelokkan perahu mengikuti alur ombak. Nahas, upayanya tidak berhasil. Perahu justru terbalik dan menimpa tubuhnya.

Akibat tertimpa perahu tersebut, Ngudi mengalami patah tulang di kaki sebelah kiri dan luka sobek di mata kaki sebelah kanan. Selain itu perahu yang diberi nama Dirgahayu tersebut rusak parah hingga terbelah menjadi dua setelah badan perahu menghatam dasar laut.

"Jadi [perahu] sempet terbalik dan menghantam dasar laut, lalu sama temen-temen nelayan ditarik ke tepian, sampai di tepi badan perahu kemudian patah jadi dua," ucapnya saat ditemui awak media di rumahnya di Dusun Sangetan, Desa Glagah, Kecamatan Temon, Selasa siang.

Ngudi menjelaskan dalam peristiwa ini dirinya tidak sendiri. Dia yang bertugas sebagai tekong ditemani seorang ABK bernama Erik Riyanto, 28, warga Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih. Beruntung Erik tidak mengalami luka.

Laki-laki yang juga merupakan Ketua Kelompok Nelayan Ngudi Mulyo Desa Glagah ini mengungkapkan kerugian akibat peristiwa tersebut sebanyak Rp15 juta mengingat kerusakan paling parah di tubuh perahu hingga terbelah menjadi dua.

"Itu sudah tidak mungkin diperbaiki, kalaupun diperbaiki sudah tidak mungkin digunakan untuk melaut di pantai selatan mengingat ombak yang tinggi," ucapnya.