Ayo Melihat Dari Dekat Batik Bermotif Seni Budaya di Pengasih

Seorang pengunjung melihat batik thinting di Sanggar Budaya Singlon di Jalan Kawijo 17 Kecamatan Pengasih, Kulonprogo, Kamis (13/12/2018). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
14 Desember 2018 23:15 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-Batik kontemporer di Indonesia kian berkembang. Hal ini tidak lepas dari munculnya ide kreatif dari para perajin batik yang dimanifestasikan dalam aneka ragam motif. Salah satunya adalah batik thinting asal Kulonprogo yang mengendepankan motif seni budaya.

Motif ini menyajikan batik dengan gambar gamelan, candi dan aksara Jawa. Karena batik ini lahir di Bumi Binangun, tidak ketinggalan kreasi motif geblek renteng tetap tersemat. Motif tersebut berpadu dengan motif seni budaya sehingga menghasilkan citra yang enak dipandang mata.

Batik ini bisa ditemui di Sanggar Budaya Singlon yang terletak di Jalan Kawijo 17, Kecamatan Pengasih. Pemiliknya adalah seorang pelaku seni pertunjukan bernama Joko Mursito. Bersama anaknya, Ari Hargiatmi, Joko mulai mengembangkan batik thinting bermotif seni budaya pada 2015.

Joko mengungkapkan pemilihan motif seni budaya di batik thinting merupakan jawaban dari keinginannya untuk menemukan motif baru dalam dunia perbatikan. "Saya ingin motif batik di Kulonprogo itu bisa beragam dan memiliki keunikan, sehingga ada pangsa pasarnya sendiri," ucap Joko saat ditemui Harian Jogja di sanggar miliknya, Kamis (13/12/2018).

Disinggung mengenai thinting yang digunakan untuk menamakan produksi batiknya, Joko menjelaskan thinthing diambil dari bunyi suara alat karawitan yang dibunyikan. Hal ini juga terkait dengan latar belakangnnya sebagai pengrawit atau penabuh gamelan.

Bunyi thinting, menurut Joko, memiliki makna tersendiri. Di awal dia mendirikan usahanya belum memiliki karakter yang kuat. Seperti halnya saat mengatur suara karawitan yang perlu dipukul beberapa kali sehingga mendapatkan suara yang pas serta bertingkat.

"Jadi awalnya dulu saya masih bingung apakah usaha ini akan berhasil, ibarat menabuh gamelan perlu ada penyesuaian ritme dan nada, nah dari situlah akhirnya saya pakai bunyi thinting untuk dijadikan nama usaha ini," ucap pria yang menjabat sebagai Sekretaris Dinas Kebudayaan Kulonprogo ini.

Keunikan batik thinting tidak hanya diminati masyarakat biasa. Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, sering mengenakan batik ini. Namun untuk orang nomor satu di Bumi Binangun tersebut, motif yang dipilihnya tetap harus ada gambar geblek renteng.

Joko mengungkapkan produksi batik kreasinya dalam sebulan sebanyak 600 potong. Harga yang dipatok berkisar Rp150.000 hingga Rp300.000. "Kebetulan saya dibantu 13 pekerja, dalam sebulan bisa mengirim ke luar kota bahkan luar Jawa, kadang ada wisatawan mancanegara yang datang ke sini untuk beli langsung," ucapnya.

Salah satu peminat batik thinting, Kuntari, 31, mengatakan keunikan batik ini terdapat di motifnya serta warna yang hidup. "Warna dan motifnya menarik, apalagi yang dipadukan dengan motif geblek renteng, jadi makin Kulonprogo banget," ucap perempuan asal Gadingan, Wates, Kulonprogo, tersebut.