Komunitas Seni Tertua Ini Tampilkan Pentas Drama Unik, Apa Itu?

Kelompok Sanggar Bambu saat berkunjung di Griya Harian Jogja, Selasa (8/1) siang. - Harian Jogja/Arief Junianto
09 Januari 2019 06:20 WIB Arief Junianto Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Sebagai komunitas seni tertua di DIY, Sanggar Bambu terus eksis. Dalam memperingati 60 tahun mereka berkarya, komunitas yang beranggotakan seniman lintas genre itu menggelar pentas drama.

Tak biasa, pergelaran drama yang mereka gelar kali ini bakal dibesut oleh lima orang sutradara sekaligus. Dalam pentas bertajuk Ronggolawe Makar itu, kelima sutradara bakal menukangi lima fragmen yang berbeda-beda.

“Kelima fragmen itu masing-masing adalah Jaman Old, Jaman Now, Monolog, Narasi, dan Dialog Metafisis,” kata Totok Buchori, Ketua Sanggar Bambu saat berkunjung ke Griya Harian Jogja, Selasa (8/1).

Kelima sutradara itu, kata dia, di antaranya adalah sutradara Teater Gandrik, Jujuk Prabowo; seniman teater Luwi Darto, aktor teater Lita Pauh Indrajaya; dan seniman teater senior Untung Basuki.

Dia mengatakan naskah Ronggolawe Makar diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Joko Santosa. Tak tanggung-tanggung, naskah pentas itu digarap oleh dua tokoh sastra dan budaya DIY, yakni Aprianus Salam dan Indra Tranggono.

Rencananya, kata dia, pentas berdurasi sekitar 1,5 jam itu akan digelar pada Mei mendatang di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.

Salah satu sutradara pementasan, Untung Basuki mengatakan setidaknya ada 50 lebih aktor teater akan terlibat dalam pementasan tersebut. Dia menjelaskan dalam pementasan itu nantinya akan memanfaatkan lima setting spot yang berbeda dalam satu panggung. “Kelima setting itu akan mewakli masing-masing fragmen,” kata dia.

Menurut dia, Ronggolawe Makar menjadi sebuah penanda istimewa masa 60 tahun Sanggar Bambu berkesenian. Meski Ronggolawe Makar berakar dari kisah sejarah, namun dia menegaskan pementasan tersebut bakal dikemas secara kontemporer. “Jadi pementasan itu tidak sepenuhnya jadi pentas teater tradisi. Kami akan mengemasnya secara berbeda,” ucap seniman yang kerap mementaskan musikalisasi puisi itu.

Sekadar diketahui, Sanggar Bambu merupakan komunitas seni yang didirikan oleh sejumlah seniman lintas genre, seperti Soenarto Pr, Kirdjomulyo, dan Danarto pada 1 April 1959.

Sebagai komunitas seni, nama Sanggar Bambu tak bisa dipandang remeh bagi perkembangan seni di Indonesia. Di antaranya sejumlah patung monumen yang tersebar di beberapa kota, salah satunya monumen Ahmad Yani di Jakarta.