Serapan Pupuk Bersubsidi di DIY Tembus 90 Persen
Realisasi penebusan pupuk bersubsidi di DIY disebut mencapai 90% dari total alokasi tahun ini sebesar 75.049 ton.
Fenomena skill sopir truk oleng di Pantai Goa Cemara, Yogyakarta./Ist- Facebook Tiara Tifana
Harianjogja.com, BANTUL -Komunitas sopir truk yang tergabung dan Truk Mania Jogja (TMJ) menyatakan aksi truk melaju zig-zag bersama atau dikenal Kapten Oleng tidak ada dalam agenda komunitas. Aksi itu merupakan inisiatif pribadi sopir.
"Dalam acara di Pantai Goa Cemara tidak ada acara trip oleng," kata Noor Kholik, salah satu anggota TMJ pusat saat dihubungi Selasa (22/1/2019).
Selain anggota TMJ, Noor Kholik juga sebaai penasehat dalam acara Universary Truk Mania Jogja di Pantai Goa Cemara, Srigading, Sanden, Bantul, pasa Minggu (20/1/2019) sore.
Ia mengatakan acara di Pantai Goa Cemara yang diikuti sekitar 300an sopir truk itu merupakan acara pertemuan biasa antar pengemudi truk di wilayah DIY. Acara tersebut juga sudah mendapat izin dari kepolisian, bahkan mendapat pengawalan dari polisi.
Acara berlangsung hingga pukul 15.00 WIB. Masing-masing sopir truk pulang. Noor Kholik tidak tahu jika dalam perjalanan pulang ada sopir truk yang melakukan aksi Kapten Oleng. "Itu murni aksi pribadi sopir, di luar instruksi komunitas," ujar Noor Kholik.
Senada, anggota TMJ wilayah Bantul yang menurusi perizinan Universary Trukmania Joja, Saiful Bustan mengatakan tidak ada agenda Kapten Oleng dalam acara tersebut. Pihaknya bahkan sudah mewanti-wanti agar saat konvoi untuk tidak melakukan aksi Kapten Oleng. "Dalam acara sudah diimbau jangan melakukan aksi Kapten Oleng," kata Ipul-sapaan akrab Saiful Bustan.
Ia menduga aksi Kapten Oleng yang dilakukan Muhammad Faizal hingga mengakibatkan kecelakaan tidak murni dari sopir truk, namun juga karena permintaan warga yang menonton.
Menurut dia, saat mengadakan acara sepanjan jalan banyak warga yang menonton. Tidak sedikit penonton yang meminta sopir truk berjalan oleng kemudian direkam melalui telepon selular yang kemudian diunggah di media sosial.
Dengan fenomena tersebut, sopir truk terpancing untuk melakukan aksi Kapten Oleng. "Kalau dalam bahasa jawanya sopirnya aleman karena banyak penonton," ujar Ipul.
Kendati demikian, ia menegaskan komunitasnya melarang aksi Kapten Oleng karena dampaknya berbahaya bagi diri sopir truk maupun pengguna jalan lain. Ipul mengimbau agar semua sopir truk tetap mematuhi aturan dan tata tertib berlalu lintas demi keamanan dan keselamatan di jalan.
Disinggung soal bantuan hukum, Ipul mengaku sebagai sesama komunitas memiliki tanggung jawab moral untuk mendampingi anggota komunitas yang berhadapan dengan hukum, meski pendampingan tersebut hanya dukungan moral. Sementara soal kunjungan ke keluarga korban, Ipul menyatakan komunitas TMJ akan berkumpul kembali hari ini untuk menentukan langkah atas kejadian kecelakaan tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
IMM dan IPM DIY gelar aksi tapa pepe di Jogja, sampaikan kritik kebijakan pemerintah lewat duduk diam di Titik Nol Kilometer.
SMARTFREN terus memperkuat pengalaman digital pelanggan di Kota Tegal melalui layanan internet yang andal, sekaligus menghadirkan SMARTFREN Fun Run Tegal 2026
Foto profil WhatsApp kosong tidak selalu berarti diblokir. Ini 6 penyebab umum yang sering terjadi pada pengguna.
Banyak pasar tradisional di Bantul rusak terutama atap. Pemkab lakukan perbaikan bertahap dengan anggaran terbatas.
Perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang berkarakter, berintegritas.