SD Muhammadiyah Sapen Pertahankan Gelar, Tarakanita Bumijo Cetak Sejarah di MLSC Jogja
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
Visual puncak Gunung Merapi dari pos Pengamatan Gunung Merapi di Selo, Boyolali, Minggu (3/3) pagi./Twitter-BPPTKG DIY
Harianjogja.com, JOGJA—Sepanjang Sabtu (2/3/2019), terjadi peningkatan guguran material Gunung Merapi. Tak tanggung-tanggung, angkanya mencapai 103 guguran.
Berdasarkan data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja, jumlah guguran awan panas selama Sabtu (2/3) tercatat 103 guguran, 10 guguran awan panas, 4 kali guguran lava dan 19 kali hembusan. Jarak luncuran lava paling terpanjang sejauh 850 meter sementara awan panas terjauh 2.000 meter mengarah ke Kali Gendol.
Aktivitas Gunung Merapi yang terjadi pada akhir pekan tersebut hampir menyamai aktivitas yang terjadi pada 18 Februari lalu di mana BPPTKG mencatat terjadi 95 guguran, 7 guguran awan panas, 30 kali guguran lava dan 21 kali hembusan. Jarak luncuran lava terpanjang sejauh 900 meter sementara awan panas terjauh satu kilometer mengarah ke Kali Gendol.
Meski aktivitas guguran mengalami lonjakan, namun BPPTKG memastikan kondisi tersebut masih tergolong kecil. Pasalnya, laju pertumbuhan kubah Merapi sampai 28 Februari ini dinilai masih rendah, yakni rerata pertumbuhan 1.300 meter kubik per hari.
Tercatat volume kubah hanya 466.000 meter kubik. "Aktivitas Merapi masih mengalami fase erupsi kecil, kondisi kubah masih stabil meskipun beberapa kali terjadi guguran lava," kata Kepala BPPTKG Jogja Hanik Humaida, Minggu (3/3/2019).
Awan panas yang muncul pun menurut dia skalanya masih kecil. Sejak 29 Januari hingga 2 Maret, tercatat 24 kali Gunung Merapi mengeluarkan guguran awan panas dengan jarak maksimal dua kilometer.
Terakhir kali, awan panas meluncur pada Sabtu (2/3) malam pukul 20.45 WIB dengan jarak luncuran 1,35 kilometer ke arah Kali Gendol. Proses erupsi efusif pun hingga kini masih berlangsung ditandai aktivitas vulkanik tinggi mensuplai magma.
Akibat guguran awan panas tersebut, lanjut Hanik, hujan abu tipis terpantau terjadi di lereng Merapi seperti Kalitengah Lor, Kaliurang, Turgo, Ngepring, Nganggring, Tunggul Arum, Srunen dan sejumlah titik lain. Kondisi tersebut diakui Hanik lebih dipengaruhi oleh arah mata angin.
"Awan panas yang muncul masih di bawah jarak aman yang kami rekomendasi. Kalau sudah menyentuh 3km kami tentu akan lakukan evaluasi. Jadi statusnya masih sama [Waspada], dan rekomendasinya juga masih sama. Masyarakat masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa karena tidak ada perubahan aktivitas yang signifikan," kata Hanik.
Meski begitu, kegiatan pendakian di Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana. Masyarakat diminta untuk terus meningkatkan kewaspadaan terkait awan panas dan bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak Gunung Merapi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
Polda Sultra menempatkan dua anggota Polres Baubau di patsus selama tujuh hari terkait dugaan penganiayaan dan intimidasi terhadap jurnalis TV One.
Timnas Putri U17 Indonesia mengalahkan Singapura 5-0 dan lolos ke Piala Asia Putri U17 2027 di China dengan sembilan poin sempurna.
PKB Sleman mengukuhkan pengurus DPAC di 17 kapanewon dengan keterwakilan perempuan minimal 30% dan menargetkan pengurus ranting tuntas November.
Sebanyak 12.176 titik panas terdeteksi di Indonesia. Karhutla membakar ratusan rumah di Bangka Selatan dan membuat udara Jambi berbahaya.
Framingham Risk Score membantu memperkirakan risiko penyakit jantung dan stroke dalam 10 tahun. Kenali faktor risiko dan pentingnya MCU.