Imbas Savannah, Kerugian Pertanian Terus Didata

Petani di Desa Tayuban, Kecamatan Panjatan mengurusi lahan sawahnya yang sempat terendam banjir pada Senin (18/3) pada Kamis (21/3/2019).-Harian Jogja - Fahmi Ahmad Burhan
22 Maret 2019 07:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo masih memfinalkan data dampak kerugian pertanian yang kebanjiran akibat saat Siklon Savannah pada Minggu (17/3/2019). Data sementara, luas lahan pertanian di Kulonprogo yang tergenang banjir ada 1.633 hektare.

Kepala Seksi Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo Wazan Mudzakir mengatakan luasan total kerusakan dengan kerugian akibat banjir pada pertanian di Kulonprogo belum bisa diketahui karena terus didata.

“Belum bisa diidentifikasi kerugiannya karena setelah tergenang, ketika airnya surut, seperti pada tanaman padi, itu kan masih bisa hidup,” paparnya, Kamis (21/3/2019). Kerugian bisa dihitung pada tiga hari setelah kejadian. Pada jangka waktu tiga hari itu, Disperpangan masih menunggu kemungkinan bisa tumbuhnya tanaman sebelum penghitungan kerugian.

Untuk data sementara, luasan lahan yang tergenang banjir pada Senin (18/3/2019) total ada 1.633 hektare. Lahan yang tergenang banjir ada di delapan kecamatan. Paling banyak luasan lahan pertanian yang tergenang ada di Kecamatan Panjatan sebanyak 660 hektare.

Salah satu petani dari Desa Tayuban, Kecamatan Panjatan, Wandi, mengatakan area sawah yang dia garap semuanya tergenang banjir pada Senin (18/3/2019). Total lahan sawah yang ia garap sekitar 2.000 meter persegi.

Dia mengaku belum bisa memperkirakan kerugian akibat banjir pada lahan sawah yang digarap. Menurut Wandi, kerugian terjadi tidak hanya ketika sebagian lahannya saja yang gagal panen tetapi kerugian juga didapat pada harga jual hasil panen yang dimungkinkan anjlok.

Ketua Kelompok Tani Suko Penganti Desa Tayuban Haryono mengatakan di desanya ada 100 hektare lahan pertanian yang tergenang banjir. Tanaman padi terendam air berhari-hari sehingga bulirnya rusak. Ada yang mau panen tetapi padinya sudah tidak bisa dipanen.

Gabah yang ditebas dalam kondisi yang basah sulit untuk dikeringkan. Bahkan, gabah itu berpotensi berjamur. Saat digiling untuk menjadi beras pun, bulirnya akan patah bahkan hancur. Dia memperkirakan harga padi di lahan 1.000 meter persegi yang ditebas pembeli bisa laku dijual dengan harga Rp4 juta. Namun, akibat tergenang banjir harganya bisa menjadi Rp2 juta.