5.236 UMKM Bantul Sudah Jualan Online, Omzet Ikut Naik
Sebanyak 5.236 UMKM Bantul telah memanfaatkan platform digital untuk berjualan. DKUKMPP Bantul terus mendorong digitalisasi dan literasi usaha.
Petani memanen padi dengan combine harvester di Padukuhan Mandingan, Ringinharjo, Bantul, Senin (30/3). Baru ada sebanyak 26 combine harvester besar yang ada di wikayah ini sementara kebutuhannya sangat besar. /Harian Jogja-Yosef Leon.
Harianjogja.com, BANTUL—Upaya optimalisasi hasil panen padi di Kabupaten Bantul masih terkendala keterbatasan alat mesin pertanian (alsintan) modern.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul melaporkan bahwa jumlah mesin pemanen padi atau combine harvester berukuran besar yang tersedia saat ini masih jauh dari kata ideal untuk mencakup seluruh lahan persawahan di Bumi Projotamansari.
Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, mengungkapkan bahwa saat ini Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di wilayahnya baru memiliki 26 unit combine harvester besar. Berdasarkan pemetaan di lapangan, Bantul setidaknya membutuhkan tambahan belasan unit lagi agar proses pascapanen bisa berjalan lebih efisien.
“Combine besar yang ada sekarang 26 unit. Kebutuhan masih ada sekitar 15 unit lagi,” kata Joko saat dikonfirmasi, Senin (30/3/2026). Ia menjelaskan bahwa pengadaan alsintan ini sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah pusat, sehingga pihaknya belum bisa memastikan kapan kekurangan tersebut akan teratasi.
Mekanisme perolehan bantuan ini mengharuskan Gapoktan untuk proaktif mengajukan proposal melalui dinas terkait yang nantinya diteruskan ke pusat. Langkah ini dinilai krusial bukan hanya untuk mempercepat kerja petani, tetapi juga untuk menekan angka kehilangan hasil (losses) produksi padi yang sering terjadi pada metode panen manual.
Manfaat penggunaan teknologi ini dirasakan langsung oleh Sudiro, salah seorang petani di Padukuhan Mandingan, Kalurahan Ringinharjo, Bantul. Menurutnya, penggunaan mesin pemanen mampu memangkas waktu kerja secara drastis dibandingkan cara tradisional.
"Kalau pakai mesin ini bisa satu jam selesai, sementara kalau tidak (manual) bisa setengah hari untuk luas lahan 10x1.000 meter persegi," jelas Sudiro. Lantaran jumlah unit yang terbatas, banyak petani yang akhirnya rela merogoh kocek lebih dalam untuk menyewa alat secara mandiri.
Kebutuhan akan percepatan panen ini semakin mendesak mengingat saat ini memasuki musim penghujan. Petani berupaya mengejar waktu agar gabah tidak rusak terpapar air hujan dan lahan bisa segera dipersiapkan untuk siklus tanam berikutnya. "Tidak apa-apa keluar biaya asalkan pekerjaan cepat selesai dan bisa persiapan tanam lagi," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 5.236 UMKM Bantul telah memanfaatkan platform digital untuk berjualan. DKUKMPP Bantul terus mendorong digitalisasi dan literasi usaha.
3D printing mulai meluas di Jogja, digunakan keluarga, UMKM, mahasiswa hingga pendidikan untuk kreativitas, produksi dan pengembangan produk.
Riyanda selamat dari tenggelamnya Virgo Transport 8 setelah berpegangan tripleks selama terombang-ambing di Laut Jawa.
Kawasan industri Gunungkidul diperluas menjadi sekitar 1.500 hektare untuk menarik investasi dan perusahaan besar serta menyerap tenaga kerja.
Kontes nasional kambing Kaligesing di Kulon Progo diikuti 300 peserta. Ternak unggul disebut bernilai hingga ratusan juta rupiah.
Kecelakaan Virgo Transport 8 yang membawa 243 penumpang akan diinvestigasi KNKT. Sebanyak 113 orang telah dievakuasi dan 130 masih dicari.