Dari Jogja Jokowi Lakukan Perlawanan

Deklarasi Alumni Jogja SATUkan Indonesia, Sabtu (23/3/2019) di Stadion Kridosono. - Harian Jogja/Desi Suryanto.
23 Maret 2019 13:07 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Lebih dari empat tahun Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih diam dan tidak menanggapi segala tuduhan miring dan fitnah yang dialaminya. Namun 24 hariari jelang pelaksanaan Pemilu 2019, Jokowi akan melakukan perlawanan.

Dihadapan pendukungnya di sela-sela menghadiri 'Deklarasi Alumni Jogja SATUkan Indonesia', Sabtu (23/3/2019) di stadion Kridosono, Jokowi sangat geram dengan segala fitnah yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu kepada dirinya. Dia mengaku selama 4,5 tahun mendapati berbagai penghinaan, fitnah, makian bahkan direndahkan. Namun, dirinya diam saja.

"Tetapi hari ini di Jogja, saya sampaikan, saya akan lawan. Ingat, ingat sekali lagi, akan saya lawan," kata Jokowi. Perlawanan terhadap upaya-upaya negatif tersebut pun mendapatkan sambutan antusiasme pendukung Jokowi yang hadir.

Menurut Jokowi, perlawanan tersebut bukan untuk dirinya tetapi untuk Marwah negara. Alasannya, banyak tudingan dan fitnah yang dialamatkan kepada dirinya. Jokowi sebagai antek asing. Diapun mematahkan tudingan tersebut dengan sejumlah prestasi. Jokowi menyebut pada 2015 blok Mahakam yang lebih 50 tahun dikuasai asing, sudah diambil alih 100% untuk Pertamina. "Saya tidak pernah cerita itu. Tapi saya dituding antek asing. Coba, coba masih menuduh saya antek asing," kata Jokowi.

Selain itu, kata Jokowi, blok Rokan yang juga kelola asing lebih 90 tahun, namun pada pertengahan 2018 sudah dikuasai 100% oleh Pertamina. Yang terakhir, masalah Freeport yang telah dikelola 40 tahun lebih oleh asing, sudah mayoritas saham, 51% diambil alih oleh Pemerintah Indonesia. "Dipikir gampang dan mudah mengambil alih seperti itu. Itu masih dituding antek asing, saya diam. Saya jawab tuduhan-tuduhan seperti itu agar tahu saya melakukan sesuatu," katanya.

Dulu, katanya ada klaim pulau Natuna masuk wilayah China. Saat itu tahun 2016, dia datang menggunakan kapal perang ke Natuna dan menyatakan Natuna adalah wilayah teritorial Indonesia. "Tidak ada rasa takut untuk melakukan itu. Tapi masih dituduh antek Aseng," katanya.