Disbud Kaji Rumah Demang Wonopawiro menjadi Cagar Budaya

Tim ahli cagar budaya memeriksa kondisi rumah Demang Pawira, belum lama ini. - Istimewa/Dokumen Disbud Gunungkidul
31 Maret 2019 22:07 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kebudayaan (Disbud) Gunungkidul mengkaji rumah peninggalan Demang Wonopawiro di Desa Piyaman, Kecamatan Wonosari, menjadi cagar budaya. Salah seorang keturunan Demang Wanapawiro. Generasi kelima keturunan Demang Wonopawiro bernama Pairah saat ini menempati rumah tersebut.

Berdasar catatan sejarah, Demang Wonopawiro merupakan sosok penting dalam sejarah berdirinya Ibu Kota Kabupaten Gunungkidul di Wonosari. Demang Wonopawiro memimpin pasukan membuka hutan Nangka Doyong yang kini menjadi Kota Wonosari.

Kepala Bidang (Kabid) Pelestarian Warisan dan Nilai Budaya Disbud Gunungkidul, Agus Mantara, mengatakan jajarannya bersama tim ahli cagar budaya mengkaji Ki Demang Wonopawiro menjadi cagar budaya sebagai salah satu pelestarian peninggalan bersejarah. "Jika sudah menjadi cagar budaya, baru kemudian bisa ditentukan langkah-langkah pelestariannya," ujarnya saat dihubungi Minggu (31/3/2019). Menurut Agus Mantara, untuk upaya pelestarian dibutuhkan surat keputusan (SK) cagar budaya. "Itu syarat utamanya," katanya.

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya, Winarsih, mengatakan saat ini rumah tersebut dihuni oleh Pairah bersama suaminya Basuki Wibowo. Berdasarkan pengamatan, ditemukan beberapa perubahan di rumah tersebut. "Perubahan hanya pada bagian depan yang sudah ditembok, selebihnya tidak ada yang berubah," ucapnya.

Rumah tersebut terdiri dari joglo, limasan, dan pringgitan. Sedangkan lantainya beralaskan anyaman bambu tetapi beberapa sudah ada yang lapuk dimakan usia. Pada bagian umpak menggunakan batu putih serta dinding terbuat dari gebyog kayu jati.