Korporasi Raksasa Harus Bertanggung Jawab soal Sampah Plastik

Ilustrasi sampah plastik - Picture/Alliance/Photoshot
30 April 2019 09:17 WIB Uli Febriarni Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Organisasi nirlaba yang bergerak dalam pelestarian lingkungan, Greenpeace mulai menyasar korporasi atau perusahaan raksasa dalam upaya membangun pengurangan plastik sekali pakai (single use plastic). Perusahaan besar memiliki tanggung jawab untuk ikut mengubah kebiasaan masyarakat dalam menggunakan plastik.

Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi mengungkapkan dengan menyasar korporasi besar, Greenpeace bisa membuat perusahaan-perusahaan itu tahu, mereka punya tanggung jawab untuk ikut mengubah kebiasaan masyarakat dalam menggunakan plastik. Kendati demikian, dalam mewujudkannya, Greenpeace tidak kemudian menempatkan diri di dalam lingkaran atau sebagai pendamping perusahaan dalam menunjukkan tanggung jawabnya, melainkan di luar atau sebagai pengawas.

"Kami juga bukan melihat mereka [perusahaan] itu jahat atau tidak mau berubah, tetapi kami yakin gerakan-gerakan mereka [korporasi besar] bisa dicontoh oleh yang lain. Itulah kenapa kami tidak bicara UMKM," kata dia saat bincang santai bersama sukarelawan dan wartawan, di Resto Bumbu Desa, Senin (29/4/2019).

Disinggung perihal penggunaan bahan plastik sekali pakai yang diklaim mudah terdaur ulang oleh sejumlah perusahaan, menurut Atha, hal itu langkah yang percuma. Kalau perusahaan tersebut tidak bisa memastikan kalau barang-barang itu bisa dan sudah didaur ulang.

"Mengganti bahan kemasan belum menjadi solusi ideal, saya yakin itu tidak signifikan mengurangi plastik sekali pakai," kata dia.

Dikatakan Atha, sebetulnya penanganan, pengelolaan dan membangun kebiasaan mengurangi plastik sekali pakai menjadi tanggung jawab masyarakat, korporasi dan pemerintah.

"Kalau masyarakat tidak waspada, konsumsi plastik akan berlebihan sehingga memunculkan dampak negatif. Yang bisa dilakukan adalah memberikan edukasi secara perlahan untuk mengurangi plastik sekali pakai," ujarnya.

Pemerintah perlu menggunakan pengaruh yang dimiliki untuk membangun kesadaran masyarakat yang dipimpin perihal pembatasan penggunaan plastik sekali pakai. Misalnya yang dilakukan oleh pemerintah daerah di Bali, Banjarmasin, Balikpapan dan Bogor. Mereka sudah memiliki aturan larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai dan bahan lain yang sukar terdaur ulang.

Menurut Atha, ketika aturan itu diterapkan dan berlaku masif di daerah, masyarakat akan waspada. Dari yang diawali dengan keterpaksaan, maka perlahan akan terbiasa.

Juru kampanye Media Greenpeace Indonesia, Ester Meryana menyebutkan Greenpeace mengampanyekan kelestarian alam baik itu lewat gerakan di sektor kehutanan, laut, energi dan urban.

Sektor urban memang baru disasar pada 2018 lalu, Jogja disasar menjadi salah satu kota tujuan kampanye #breakfreefromplastic karena kota ini berpotensi menjadi contoh bagi kota lainnya di Indonesia.

"Ada gerakan dari masyarakat yang bisa ajak pihak lain untuk mengurangi plastic. Yang perlu diketahui, permasalahan plastik di Indonesia semakin pelik. Daratan bukan hanya dibanjiri oleh sampah plastik hasil konsumsi sendiri, tetapi juga buangan dari negara lain,” jelas Mery.

Laporan terbaru yang dikeluarkan oleh GAIA atau Global Alliance for Incinerator Alternatives berkolaborasi dengan Greenpeace Asia Timur menyebutkan Asia Tenggara telah menjadi destinasi buangan setelah Tiongkok mengeluarkan larangan impor sampah asing pada 2018.

"Data yang diolah oleh Greenpeace menunjukkan ada kenaikan impor sampah plastik oleh Indonesia. Pada 2017 sebanyak 10.000 ton per bulan dan menjadi 35.000 ton per bulan pada akhir 2018," kata dia.

Derasnya sampah plastik impor ini sangat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat di sekitar lokasi penampungan. Apalagi, hanya 9% dari total plastik yang pernah diproduksi dapat didaur ulang. Sampah plastik banyak yang ditumpuk atau dibakar begitu saja dan menghasilkan polutan yang sangat berbahaya.

"Satu-satunya solusi untuk mengatasi polusi plastik adalah memproduksi lebih sedikit plastik. Para pengguna plastik terbesar terutama perusahaan-perusahaan barang konsumsi dan juga jaringan supermarket, perlu mengurangi kemasan plastik sekali pakai serta bergerak menuju sistem isi ulang dan penggunaan kembali," ujarnya.

Beruntungnya, kini di tengah masyarakat, gerakan menghindari penggunaan plastik sekali pakai semakin menjamur.

Volunteer Greenpeace Jogja Madda Aisar menyatakan sampah di wilayah pantai di DIY tergolong mengkhawatirkan. Misalnya, saat berkegiatan di objek wisata Pantai Pandansari, jarang terlihat ada petugas kebersihan yang sedang membersihkan pantai. Sehingga kondisi pantai sangat kotor. Sampah bukan hanya terlihat di pasir pantai, melainkan juga mengambang di perairan.

"Bukan hanya bersih pantai, kami juga mengidentifikasi dan menglasifikasikan sampah yang dijumpai, berdasarkan jenis produk dan perusahaan produsennya," ungkapnya.

Madda mengakui apa yang dilakukan sukarelawan belum yakin pasti langsung mengubah kebiasaan masyarakat dalam menggunakan plastik. Namun yang bisa dilakukan adalah terus konsisten berkampanye dan tinggal melihat momentum yang tepat kapan kebiasaan single-use plastic itu berubah.

"Kami fokus intens pada kampanye mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, terutama lewat anak muda. Lewat diskusi dengan sejumlah komunitas, banyak anak muda yang tahu kalau ini adalah masalah, setidaknya itu membawa sprit positif," kata dia.