Sejak 2014 Gunungkidul Sudah Terbebas dari Malaria

Ilustrasi nyamuk DBD - JIBI
17 Mei 2019 15:12 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kabupaten Gunungkidul dinyatakan menjadi daerah yang bebas malaria sejak 2014. Dalam pertemuan Hari Malaria Sedunia yang digelar di Bali beberapa hari lalu, World Health Organization (WHO) sebagai badan kesehatan dunia menargetkan Indonesia bebas malaria pada 2030. Khusus DIY, hingga saat ini hanya Kabupaten Kulonprogo yang dinyatakan belum terbebas dari endemis malaria.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka, mengatakan upaya yang dilakukan sehingga berhasil memberantas endemis malaria yakni dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pemantauan jentik nyamuk malaria. Pasalnya, penularan malaria sama dengan penyakit demam berdarah dengue (DBD). "Penularan penyakit malaria melalui nyamuk," ujarnya, Jumat (17/5/2019).

Diakui Priyanta, indikator yang membuat sebuah wilayah bebas malaria ialah sudah mendapat sertifikat eliminasi malaria dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes). "Kami sudah memperoleh setifikat itu lima tahun lalu," katanya.

Priyanta menyatakan sampai saat ini tidak ditemukan adanya warga di Bumi Handayani yang terkena penyakit malaria. Menurutnya, gejala penyakit malaria timbul setidaknya 10 sampai 15 hari setelah digigit nyamuk, dan dalam waktu enam sampai 12 jam biasanya merasa demam, menggigil dan sakit kepala serta tubuh terasa lemas.

Dinkes terus berupaya melakukan deteksi dini bagi warga yang terindikasi. Biasanya orang terkena malaria seusai bepergian ke daerah yang masih belum terbebas malaria. "Sebagai antisipasi jika bepergian sebaiknya memakai baju lengan panjang dan celana panjang," kata dia.