Rayakan Kelulusan, Pelajar Sekolah Ini Pilih Sumbangkan Seragam dan Kunjungi Panti Asuhan…

Kegiatan wisuda kelulusan siswa SMAN 10 Kota Jogja di Gedung PKKH UGM, Minggu (19/5/2019). - Ist/SMAN 10.
21 Mei 2019 03:37 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kegiatan corat-coret seragam SMA sudah jarang terlihat di Kota Jogja. Sejumlah siswa yang merayakan kelulusan mereka memilih untuk membuat kegiatan positif dengan tidak melakukan corat coret seragam putih abu-abu.

Hal itu juga terjadi di SMA N 10 Kota Jogja yang memilih mengumpulkan seragam sekolah untuk disumbangkan kepada pihak yang membutuhkan. Sekolah ini juga menggelar kegiatan wisuda kelulusan siswa di Gedung PKKH UGM, Minggu (19/5/2019).

Kepala SMAN 10 Kota Jogja Basuki menjelaskan pihaknya telah memberikan pemahaman kepada siswanya, bahwa zaman terus berubah sementara sebagai pelajar yang baru akan lulus SMA masih butuh perjalanan jauh untuk mencapai cita-cita. Sehingga perjalanan itu harus diisi dengan kegiatan positif, ketika mendapatkan nikmat kelulusan, ia mengajak siswanya untuk bersyukur bukan hura-hura.

“Kami sejak awal selalu berusaha memberikan pemahaman siswa, setiap kelulusan lakukan kegiatan yang positif sebagai bentuk syukur,” terang dia dalam keterangan persnya.

Basuki memastikan tidak ada satu pun siswanya mencoret-coret baju saat perayaan kelulusan. Bahkan perayaan kelulusan itu dilakukan dengan mengunjungi panti asuhan dan menyantuni anak yatim yang murni ide para siswa sendiri. Ketiadaan pesta coret-coret dan konvoi di SMAN 10 sebenarnya mulai hilang sejak dua tahun terakhir, puncaknya pada kelulusan 2019 ini para siswa yang lulus justru memiliki ide berkegiatan positif sebagai ganti konvoi.

“Tiga tahun lalu masih ada, sekarang sudah enggak ada, saya enggak melihat sama sekali anak kami yang sampai semprot-semprot,” ujarnya.

Selain itu, pihak sekolah juga menyarankan kepada siswa agar seragam sekolah tidak dipakai kemudian dikemas dan diserahkan ke sekolah untuk disalurkan kepada pihak membutuhkan. “Dan [pengumpulan seragam] ini sudah berjalan dikoordinasikan oleh Waka Kesiswaan, disumbangkan ke pihak yang membutuhkan,” katanya.

Pada kelulusan 2019 ini, lanjutnya, pihaknya mewisuda 186 siswa terdiri atas 139 MIPA dan 47 siswa dari IPS. Dari jumlah itu sebanyak 76 yang mendaftar jalur SNMPTN dan diterima 23 siswa di berbagai perguruan tinggi negeri di berbagai kota di Indonesia. Jumlah siswa yang lolos SNMPTN itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Ada dua anak kami yang mendapatkan nilai UN 100 yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Biologi,” ujarnya.

Ketua Komite SMAN 10 Kota Jogja Joko Jumeno mengapresiasi siswa dan guru SMAN 10 yang mampu melakukan perubahan tradisi pelajar ke arah positif sehingga kelulusan tidak identik dengan konvoi dan coret-coret. “Selama ini kami juga berupaya memberikan pemahaman kepada orangtua untuk mengantisipasi agar anak tidak mengikuti kegiatan yang kurang bermanfaat,” ujarnya.

Pihaknya selalu mendukung beragam program yang dilakukan sekolah. Tak terkecuali rencana menjadikan SMAN 10 menuju sekolah adiwiyata dan akreditasi perpustakaan yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini. “Kami juga akan mengupayakan menambah jumlah buku di perpustakaan baik yang fiksi maupun non fiksi,” ucapnya.