Kasus Antraks Ditemukan di Gunungkidul

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Bambang Wisnu Broto - Harian Jogja/David Kurniawan
22 Mei 2019 19:32 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Lima sapi di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul terserang antraks. 

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan munculnya kasus antraks bermula dari tiga sapi yang mati secara mendadak pada akhir April lalu. Dia mengatakan daging sapi “Kami baru tahu pada 8 Mei lalu dan langsung ditindaklanjuti dengan mengambil sampel tanah di lokasi penyembelihan. Hasilnya, dari uji laboratoium di Balai Veteriner DIY dinyatakan tanah di sekitar lokasi positif antraks,” kata Bambang kepada wartawan, Rabu (22/5).

Menurut dia, lima sapi teridentifikasi terkena antraks. Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul sudah bergerak cepat. Selain melaporkan kejadian ini ke bupati, kata Bambang, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pemerintah DIY hingga Kementerian Pertanian. “Kami sudah lakukan berbagai pencegahan mulai dari memberikan suntikan vaksin ke 90 ekor sapi dan 240 ekor kambing. Selain itu, kami juga sudah menyirami tanah di sekitar lokasi dengan antibiotik,” ungkapnya.

Pemkab Gunungkidul juga memberlakukan karantina agar hewan di wilayah Kecamatan Karangmojo tidak keluar daerah sehingga penyebaran bisa dicegah. “Untuk sementara kami tutup dan akan kami lakukan pemantauan dan pengawasan selama 1,5 bulan ke depan,” katanya.

Bambang tidak bisa memastikan sumber bakteri antraks. “Bisa banyak faktor apalagi lalu lintas ternak juga dengan bebas keluar masuk sehingga potensi antraks dari luar daerah sangat mungkin, apalagi wilayah di sekitar Gunungkidul masuk sebagai endemi antraks,” tuturnya.

Menurut dia, kasus temuan antraks di Bejiharjo merupakan kasus pertama yng terjadi di wilayah Gunungkidul. “Untuk Gunungkidul baru sekali, tapi untuk DIY kasus terakhir terjadi di Kulonprogo pada 2017 lalu,” katanya.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Veteriner, Dinas Pertanian Pangan Gunungkidul, Retno Widyastuti menambahkan jawatannya sudah membentuk enam kelompok pengawasan. Pengetahuan mengenai antraks juga akan disosialisasikan di Desa Bejiharjo, Sabtu (25/5/2019). “Sudah kami agendakan. Harapannya masyarakat bisa tahu dan tidak panik dengan temuan kasus ini,” katanya.

Retno tanah di sekitar kandang hewan yang mati akan dicor dengan semen untuk mencegah penyebaran bakteri antraks.

 “Bakteri antraks bisa bertahan selama 80 tahun. Jadi, dengan pengecoran harapannya tidak menyebar ke daerah lain,” kata dia.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan ada tiga orang warga yang diperiksa. Dari ketiganya hanya seorang yang diambil sampelnya untuk diuji di laboratorium. “Biar pasti harus diuji laboratorium. Untuk pengambilan sampel telah dilakukan dan sudah kami kirim ke laboratorium dan tinggal menunggu hasilnya,” kata Dewi.