Kementerian Komdigi Berdayakan Duta Damai BNPT Jadi Penyuluh Informasi
“Saat ini kita memiliki isu krusial, yakni kebijakan PP Tunas sebagai payung hukum perlindungan anak di ruang digital,”
Kapolsek Srandakan, Kompol Muryanto (kiri) menunjukkan petasan hasil sitaan dari masyarakat di sekitar JJLS, di Markas Polsek Srandakan, Senin (3/6/2019)./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL—Kepolisian Sektor (Polsek) Srandakan menyita ribuan petasan berbagai merek dan ukuran selama Ramadan. Mercon-mercon hasil sitaan tersebut kemudian dimusnahkan dengan cara direndam dalam air. Kebanyakan petasan itu dibawa oleh pengunjung yang masih berusia di bawah 20 tahun.
“Hampir setiap hari kami razia petasan sejak awal puasa dengan sasaran wilayah pantai dan sekitar Jalan Jalur Lintas Selatan. Kalau jumlahnya bisa mencapai lebih dari 1.000 petasan,” kata Kepala Kepolisian (Kapolsek) Sektor Srandakan Kompol Muryanto, saat menunjukkan petasan hasil sitaan di Markas Polsek Srandakan, Senin (3/6/2019) pagi.
Terakhir razia dilakukan pada Minggu (2/6) pagi. Dalam razia itu Polsek berhasil menyita sebanyak 415 petasan berbagai ukuran. Ukuran paling besar, kata dia, sekitar 25 x 30 sentimeter dengan daya ledak cukup tinggi. “Petasan-petasan itu kami sita dari pengunjung yang berdatangan ke JJLS saat pagi hari. Sebagian besar pengunjung adalah remaja bahkan pelajar yang masih duduk di bangku SD hingga SMA,” kata Kapolsek.
Total pembawa petasan yang sempat diamankan ke kantor polisi sebanyak 24 orang. Rata-rata usia para pembawa mercon itu masih di bawah 20 tahun dan banyak yang berasal dari luar Srandakan. Polisi diakui dia sempat membidik siapa peracik petasan tersebut, namun si pemilik petasan hanya mengaku membeli dari teman. Para pelaku atau pemilik petasan tersebut pun akhirnya hanya dibina.
Muryanto mengatakan razia petasan merupakan perintah langsung Kapolres Bantul agar menjaga situasi dan kondisi di semua kecamatan aman. Salah satunya tidak menyalakan petasan karena petasan dianggap membahayakan bagi yang menyalakan maupun orang lain di sekitarnya.
Dia tidak heran kawasan selatan menjadi ajang bermain petasan karena di wilayah perkotaan sudah diperketat. Terlebih area Stadion Sultan Agung Bantul yang selama ini jadi target lokasi masyarakat berpesta mercon juga sudah ditutup rapat.
Walhasil masyarakat yang ingin menyalakan petasan pun berpindah ke wilayah selatan. “Masyarakat di wilayah selatan sebenarnya sudah protes karena merasa terganggu,” ujar Muryanto.
Untuk itu Muryanto mengaku razia petasan akan terus dilakukan hingga sepekan setelah lebaran untuk menciptakan suasana puasa dan lebaran kondusif. Proses razia difokuskan di wilayah JJLS dan empat kawasan pantai di Srandakan, yakni Pantai Pandansimo, Kuwaru, Baru, dan pantai Cangkring.
Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Bantul, AKBP Sahat Marisi Hasibuan mengimbau masyarakat untuk tidak bermain petasan karena membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain. Dia mewanti-wanti petasan bisa masuk kategori bahan peledak yang membahayaan dan bisa dipidana mealui undang-undang darurat. “Kami akan terus menggencarkan razia gabungan bersama TNI dan Satpol PP terkait peredaran petasan ini. Apalagi sudah ada korban,” kata Sahat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PWI Pusat mendesak Hotman Paris meminta maaf usai pernyataannya dinilai merendahkan wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik.
Kemendikdasmen memperkuat budaya sekolah aman, nyaman, dan inklusif melalui sejumlah program untuk mencegah kekerasan dan perundungan.
Veda Ega Pratama dan Mario Aji menemui Sultan HB X jelang GP Mandalika 2026. Sultan berpesan agar keduanya tampil percaya diri dan pantang menyerah.
Mentan Amran membantah isu tanah Papua dibeli Rp100 ribu per hektare dan menegaskan lahan pertanian hasil program pemerintah tetap milik masyarakat.
Forum Pemred meminta Hotman Paris menghormati profesi wartawan setelah ucapannya saat jumpa pers kasus Febrie Adriansyah dinilai merendahkan jurnalis.