14 Penerbangan di Wilayah DIY-Jateng Terganggu Balon Udara

Ilustrasi dampak balon udara pada penerbangan. - Ditjen Hubud/AirNav Indonesia
09 Juni 2019 17:07 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Tradisi menerbangkan balon udara sebagai salah satu perayaan Lebaran masih terjadi di wilayah DIY dan Jawa Tengah. Balon udara itu dilaporkan mengganggu kegiatan penerbangan di wilayah tersebut.

General Manager Airnav Bandara Adisutjipto Yogyakarta, Nono Sunarhadi menyatakan ada 14 laporan yang yang masuk ke lembaganya terkait penerbangan pesawat yang terganggu di wilayah Jogja dan sekitarnya akibat balon udara. Angka tersebut turun dari tahun sebelumnya sebanyak 29 laporan.

“Meski turun 50% laporan tersebut, namun karena sangat menganggu, tidak bosan kami tetap sosialisasi dan kerja sama dengan aparat, tokoh masyarakat,” kata Nono Sunarhadi, Minggu (9/6/2019).

Sejatinya kata dia, agar tidak dilakukan lagi penerbangan liar balon udara sebenarnya sudah direspons pemerintah melalui festival dengan ketentuan Permenhub Nomor 40/2018, tentang penggunaan balon udara pada kegiatan budaya masyarakat.

Adapun ketentuan salah satunya dikatakan Nono balon udara tersebut diameternya empat meter, tinggi balon udara tujuh meter dan diikat dengan ketinggian terbang 150 meter. Namun disayangkannya masih banyak yang belum mematuhi aturan itu.

Balon udara dilepas terbang tidak jelas. Bahkan dilaporkan ada yang mencapai ketinggian 27.000 feet-30.000 feet atau 9-10 kilometer, padahal pesawat juga berada di kisaran tinggi 24.000 feet – 30.000 feet.

Sejumlah daerah yang teridentifikasi menerbangan balon udara dan mengganggu penerbangan antara lain Wonosobo dan Pekalongan, Jawa Tengah serta Ponorogo, Jawa Timur.