Festival Bregada Rakyat DIY 2026 Hadirkan Juara dari 15 Tahun Penyelenggaraan
Festival Bregada Rakyat DIY 2026 menghadirkan 18 kelompok di Sleman. Simak jadwal, kriteria penilaian, hadiah, dan daftar peserta.
Guguran Lava Merapi terpantau dari Srunen, Minggu (13/1/2019)./Twitter-BPPTKG
Harianjogja.com, JOGJA- Aktivitas penambahan pasir di lereng Merapi terutama di Kali Gendol mendapat sorotan. Pasalnya, kedalaman sungai akibat proses penambangan galian C saat ini berpotensi menjadikan luncuran awan panas laiknya jalan tol.
Kepala BPPTKG Jogja Hanik Humaida mengatakan hingga kini status Merapi masih Waspada. Meski begitu, masyarakat tetap diminta untuk siap sedia menghadapi karakter Merapi yang dapat berubah. Hal itu sesuai ciri khas gunung yang memang dikenal aktif ini. Kewaspadaan juga diberikan untuk kegiatan pertambangan pasir di sepanjang sungai berhulu di Merapi.
Dia mencontohkan kondisi Kali Gendol. Bagi Hanik, perlu ada perhatian jika aktivitas penambangan pasir di Gendol terus dilakukan hal itu sama halnya memberi jalan tol bagi awan panas. Sebabnya, aliran sungai sudah tidak lagi memiliki penahan dan penghalang. Hanik mengungkap, saat ini status Merapi masih Waspada. Kondisi tersebut dinilai sebagai fase erupsi terlama Merapi dengan berstatus waspada.
"Berdasar teori awan panas, ini ibarat ‘jalan tol’ tanpa halangan. Dampaknya jarak luncur bisa lebih jauh dari perkiraan," katanya saat rapat terbuka Komisi A DPRD DIY bersama Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY dan BMKG Jogja membahas kondisi terkini Gunung Merapi, Kamis (13/6/2019).
Saat ini, kata Hanik, luncurkan awan panas masih berada pada jarak aman yang ditetapkan BPPTKG Jogja sejauh 3 kilometer atau rata-rata luncuran masih 1 kilometer dari puncak. Dia berharap, kondisi penambangan pasir di Merapi bisa menjadi perhatian bagi pemerintah dan instansi terkait. "Untuk kebijakannya bukan wewenang kami, kami hanya bisa memberikan masukan,” sambung dia.
Dia mengatakan awan panas guguran pertama Gunung Merapi teramati pada tanggal 29 Januari 2019 sebanyak 3 kali.
Awan panas guguran pertama pukul 20.17 WIB, jarak luncur 1.400 meter dan durasi 141 detik. Awan panas guguran kedua terjadi pada pukul 20.53 WIB jarak luncur 1.350 meter dan durasi 135 detik. Awan panas guguran ketiga terjadi pada pukul 21.41 WIB dengan durasi 111 detik, jarak luncur ±1.100 meter.
Semua awan panas guguran menuju hulu Kali Gendol. Kejadian Awan panas guguran setelah tanggal 29 Januari 2019 terjadi tidak kontinyu, jarak luncur maksimum 2.000 meter dengan rata-rata 1.000 metwe ke arah Kali Gendol. "Sampai dengan 13 Juni 2019 jumlah awan panas yang meluncur dari Merapi sebanyak 78 kali," katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantara mengatakan berdasarkan keterangan dari BPPTKG, Merapi belum menjadi ancaman bagi masyarakat tetapi tetap harus diwaspadai. Kewaspadaan terkait larangan naik pada radius 3 km dan juga potensi abu Merapi. "Terkait Galian C memang ada instansi terkait yang mengurus. Kami tetap menekankan pada aspek keselamatan dalam perspektif penanggulangan bencana," katanya.
Dalam konteks Merapi, dia berharap agar ada pencermatan dan evaluasi lebih lanjut terkait izin-izin penambangan yang diberikan. Berdasarkan analisis BPPTKG, katanya, dengan kondisi Kali Gendol yang dalam maka jarak luncur awan panas bisa mencapai 4 km hingga 5 km. "Dengan kondisi sungai seperti dulu hanya 2 km, maka dengan terus dikeruk bisa mencapai 5 km. Ini butuh penambahan pengawasan. Di sana yang menjadi krusial seperti itu," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Festival Bregada Rakyat DIY 2026 menghadirkan 18 kelompok di Sleman. Simak jadwal, kriteria penilaian, hadiah, dan daftar peserta.
Tim penilai pusat mengevaluasi pengelolaan sanitasi di TPST Donokerto dan Madurejo, Sleman, untuk menilai layanan, regulasi, dan keberlanjutan.
DEN menilai skema impor BBM, minyak mentah, dan LPG melalui BLU Lemigas berpeluang menekan harga, dengan syarat biaya dan risiko terkendali.
Gempa magnitudo 5,4 mengguncang 136 km barat daya Gunungkidul pada Selasa malam, 27 Oktober 2026. BMKG menyatakan gempa tidak berpotensi tsunami.
Microsoft membuka program keluar sukarela bagi sekitar 60.000 karyawan di AS, Inggris, Kanada, dan India hingga 31 Desember 2026.
Pemkab Bantul menyiapkan satu KK berisi empat jiwa untuk transmigrasi ke Polewali Mandar, Sulbar. Sebanyak 25 KK masih masuk daftar tunggu.