400 Hektare Lahan Padi di Gunungkidul Puso, Kementan Siapkan Benih Cadangan

Kepala DPP Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto (kanan), mengecek hasil panen padi di Gapoktan Ngudi Makmur, Desa Hargomulyo, Kecamatan Gedangsari, Senin (17/6/2019). - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
17 Juni 2019 19:12 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kementerian Pertanian (Kementan) siap memberikan bantuan benih cadangan nasional kepada para petani di kabupaten Gunungkidul yang mengalami puso. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, luas lahan pertanian yang mengalami gagal panen mencapai 400 hektare.

Kepala DPP Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan saat ini jajarannya mendata jumlah petani yang gagal panen. Setelah pendataan selesai, selanjutnya data diberikan ke Dinas Pertanian Provinsi DIY untuk diteruskan ke Kementerian Pertanian. "Hasil pendataan dalam bentuk berita acara," ujarnya saat ditemui Harian Jogja, Senin (17/6/2019).

Bambang Wisnu menyatakan bantuan benih cadangan nasional segera diberikan dalam waktu dekat. Diakuinya, musim kemarau yang datang pada musim tanam kedua masih akan berlanjut. "Saat ini iklim sulit untuk diprediksi sehingga wilayah yang berpotensi terkena dampak bencana kekeringan dan menyebabkan gagal panen bisa terus bertambah," katanya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengungkapkan hal yang menyebabkan terjadinya puso adalah kurangnya suplai air untuk lahan pertanian lantaran musim kemarau yang datang lebih cepat. Menurutnya, 10 kecamatan yang dilanda puso merupakan wilayah yang tidak punya sumber air. "Wilayah tersebut mengandalkan air hujan untuk mengairi lahan pertanian. Untuk daerah yang memiliki aliran sungai sumur ladang, tanaman masih bisa diselamatkan," katanya.

Salah satu upaya yang dilakukan DPP untuk mengurangi dampak kekeringan yakni memberikan bantuan pompa air. Namun lantaran ketersediaan air sangat terbatas, pompa yang didistribusikan tidak dapat digunakan.

Menurut Raharjo, akibat gagal panen di lahan seluas 400 hektare, kerugian ditaksir mencapai Rp800 juta. “Hitungan riilnya rata-rata biaya benih dan tenaga per hektar sekitar Rp2 juta,” ujar Raharjo.

Raharjo menilai puso yang terjadi tahun ini tidak terlalu berdampak terhadap target keseluruhan tanaman padi. Menurutnya, lahan padi yang mengalami puso hanya 0,6% dari total produksi padi 2019. "Hari ini [Senin] kami bisa panen padi sekitar lima ton per hektare di lahan yang berlokasi di Dusun Ngasinan, Desa Hargomulyo, Kecamatan Gedangsari," katanya.