Jelang Hari Raya Kurban, Kulonprogo Pantau Masuknya Ternak Asal Gunungkidul

Sejumlah sapi yang ada di pasar hewan terpadu di Kecamatan Pengasih, beberapa waktu lalu. Kehadiran pasar hewan terpadu ini harapannya bisa mendorong para peternak lebih peka terhadap pergerakan harga ternak di pasaran.Harian Jogja/Uli Febriarni
25 Juni 2019 09:37 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, WATES--Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulonprogo akan menerjunkan tiga tim pemantau hewan ternak guna mengantisipasi adanya hewan kurban berpenyakit, terutama yang disuplai dari Kabupaten Gunungkidul.

Tim ini terdiri jajaran Bidang Kesehatan Hewan DPP dan UPT Pos Kesehatan Hewan. Mereka mulai bertugas selama dua minggu hingga Hari Raya Idul Adha 2019 dengan menyasar seluruh pasar hewan di 12 kecamatan di Kulonprogo.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan DPP Kulonprogo, Drajat Wibowo mengatakan tim akan memantau dan memperiksa hewan ternak yang diperjualbelikan di sejumlah pasar hewan. Dokumen kelengkapan bakal diperiksa begitupun dengan kesehatan hewan ternak.

Dalam proses pemantauan, tim tersebut akan lebih intens memeriksa hewan ternak yang disuplai dari Gunungkidul. Hal ini terkait penyakit antraks yang beberapa waktu lalu menyerang ternak asal kabupaten berjuluk Bumi Handayani itu. "Kita lebih intens [memeriksa hewan ternak asal Gunungkidul] dibandingkan ternak daerah lain," kata Drajat, Senin (24/6/2019).

Dia mengatakan hewan ternak khususnya sapi yang beredar di Kulonprogo paling banyak disuplai dari Gunungkidul. Posisi kedua ditempati Purworejo. Sedangkan untuk kambing dan domba kebanyakan berasal dari wilayah Magelang, Wonosobo dan Banjarnegara.

Drajat menjelaskan dalam proses pemeriksaan pihaknya melihat beberapa aspek. Di antaranya kelengkapan surat kesehatan hewan, tempat penampungan ternak sementara hingga perlakuan pengelola terhadap ternak.

"Apakah ada surat kesehatan hewannya atau tidak, kemudian dari aspek penanganan hewan kurban, apakah sudah sesuai dengan kesehatan hewan, artinya ternak sudah diberi perlakuan yang baik atau tidak, ini juga menyangkut tempat ternak tersebut," ujarnya.

Dia menjelaskan ternak yang sehat harus memenuhi sejumlah aspek, meliputi ketersediaan pakan, air minum hingga kelayakan kandang. Kalau ada kekurangan pihaknya akan memberi saran kepada pengelola penampungan hewan.

"Untuk kesehatan kalau umpamanya ada kita curigai [berpenyakit], kita tindak lanjuti dengan pemeriksaan laboratorium, untuk memastikan berbahaya tidaknya penyakit tersebut," ujarnya.

Penyakit yang biasa ditemui pada hewan kurban kata Drajat, salah satunya diare. Ini disebabkan karena hewan mengalami stres ketika proses perjalanan dari tempat asalnya ke lokasi penampungan. Pergantian pakan, juga menjadi salah satu faktornya.

Selain diare, penyakit pink eye, semacam mata merah pada hewan ternak juga sering ditemui. Penyakit ini biasa menyerang kambing dan domba. "Ada juga kasus di mana kambing kalau ditempatkan berdekatan saling bertarung. Itu pernah ada yang sampai tanduknya patah. Nah ini perlu diantisipasi," ucapnya.