Miliki Kesamaan Kental Budaya dan Pariwisata, FKDM Kota Jogja Belajar dari Denpasar

FKDM Kota Jogja saat melakukan studi ke Kantor Badan Kesbangpol Kota Denpasar, Jumat (21/6/2019). Kunker tersebut diterima langsung oleh jajaran Kesbangpol dan FKDM setempat. - Harian Jogja/Uli Febriarni.
26 Juni 2019 14:02 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Harianjogja.com, DENPASAR--Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kota Jogja gelar kunjungan kerja (kunker) ke Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Denpasar. Kunker tersebut bertujuan mempelajari tata kelola dan pencegahan berbagai persoalan masyarakat, di lingkungan yang penuh keberagaman.

Ketua FKDM Kota Jogja, Burhanuddin menjelaskan, Kota Denpasar dipilih menjadi lokasi kunker dan studi FKDM, mengingat Kota Denpasar dan Kota Jogja memiliki banyak kesamaan, terutama sebagai kota budaya dan pariwisata. Menurut Burhan, adanya penduduk yang berasal dari beragam latar belakang di Bali, tentu memunculkan banyak perbedaan dengan masyarakat Bali, terutama kaitan nilai-nilai kehidupan.

Kedatangan orang-orang asing ini pasti menimbulkan friksi dan gesekan antar pendatang dan warga Bali, khususnya Denpasar, lanjut dia. "Namun, kondisinya terlihat kondusif. Walaupun sesekali ada masalah besar, tapi bisa diatasi dengan baik," ungkapnya, Jumat (21/6/2019).

Ia menambahkan, kondisi tersebut serupa dengan Kota Jogja, yang kedatangan warga asing, namun FKDM siap antisipasi untuk amankan Kota Jogja.

Agar menjalankan perannya dengan optimal di Kota Jogja, FKDM meminta kepada pengurus dan anggotanya, untuk mencermati lingkungan, di manapun mereka berada. Karena FKDM tak lain merupakan sambungan mata dan telinga Wali Kota Jogja. Melalui informasi yang didapat dari lapangan, kemudian informasi yang didapat diserahkan kepada kepala daerah, sebagai bahan agar kebijakan tidak salah arah.

FKDM ini resmi berdiri berdasarkan SK Wali Kota Jogja No.72/2018 tentang berdirinya FKDM Kota Jogja. Anggota FKDM Kota Jogja, Sutikno mengungkapkan, selain ikatan batin yang erat dalam hal budaya dan pariwisata, tim kunker juga ingin mempelajari apa saja yang selama ini menghambat dan mendukung kinerja FKDM Kota Denpasar.

Wakil Ketua FKDM Kota Denpasar, I Made Arka menjelaskan, berdiri dengan landasan Surat Keputusan Wali Kota Denpasar No.188.45/25/HJ/2019, FKDM memiliki banyak kegiatan yang menjadi wujud perannya di tengah masyarakat.

Beberapa di antaranya, pertama, menyampaikan kejadian yang terjadi di Kota Denpasar dalam pelaksanaan ketertiban umum. Misalnya banjir, jalan macet, pohon tumbang, perkelahian, balapan liar dan lainnya.

"Kami bekerja sama dengan jajaran kepolisian dalam menindak trek-trekan [balapan liar]. Untuk perkelahian antar siswa, kami sampai menelusuri siapa dalang perkelahian. Dalam menjalankan tugas kami, kami juga bekerja sama dengan Pecalang di Kota Denpasar," tuturnya.

Kedua, mennyosialisasikan keberadaan FKDM Kota Denpasar beserta beragam aktivitas yang dilakukan, melalui berita dan media. Ketiga, pembentukan kepengurusan di tingkat kecamatan se-kota Denpasar. Keempat, menyampaikan surat keputusan kepwal Denpasar terkait dgn FKDM Kota Denpasar.

Kelima, menyampaikan surat Kepwal terkait penggunaan house music dalam kegiatan ogoh-ogoh, untuk menyambut hari raya Nyepi. Hal itu dilakukan, karena sekarang sudah terjadi pergeseran di tengah masyarakat. Sejumlah masyarakat memilih memperdengarkan house music dalam acara ogoh-ogoh, ketimbang musik gamelan khas Bali.

"Adanya Kepwal dan sosialisasi yang kami lakukan bertujuan melestarikan budaya gamelan Bali," ucap Made, yang juga merangkap sebagai Sekretaris FKDM Kota Denpasar itu.

Sekretaris Kesbangpol Kota Denpasar, Wayan Wirawan menyatakan, tantangan FKDM Kota Denpasar dalam menjalankan perannya adalah tingkat kerawanan yang tinggi. Terlebih di Denpasar semua umat ada di kota tersebut. "Kami bekerja keras agar mampu mengelolanya dengan baik," kata dia.

Ketua FKDM Kota Denpasar, Ketut Dunia menjelaskan, saat ini sedang diupayakan berdirinya FKDM di tiap-tiap kecamatan di Kota Denpasar. Meskipun sudah berdiri, namun FKDM-FKDM tadi belum resmi beraktivitas, karena belum adanya anggaran kegiatan.