Makin Macet, Jogja Dibanjiri Ribuan Taksi

Ilustrasi taksi online. - JIBI/Nicolous Irawan
28 Juni 2019 19:37 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Kemacetan menjadi salah satu problem terbesar Kota Jogja sebagai destinasi wisata dan pendidikan. Selain kendaraan pribadi, taksi dan ojek online juga menyumbang cukup besar pada kian padatnya lalu-lintas, khususnya di sekitar kawasan wisata seperti Malioboro.

Wakil wali kota Jogja, Heroe Poerwadi, beberapa waktu yang lalu menyebutkan Pemkot membatasi jumlah taksi konvensional dengan jumlah maksimal 1.200 armada. Sementara itu, kini taksi online yang beroperasi sudah lebih dari 2.500 armada.

Lalu untuk ojek online ia perkirakan lebih dari 1.200 motor telah beroperasi. “Padahal taksi konvensional masih beroperasi, masih ditambah taksi online yang mungkin totalnya bisa mencapai 4.000, dan ini didominasi di kawasan malioboro,” katanya.

Heroe mengungkapkan sebelumnya telah berkoordinasi dengan penyedia aplikasi taksi dan ojek online. Ia meminta agar penyedia aplikasi bisa membatasi drop dan pick penumpang, agar tidak di sembarang tempat. “Yang sudah kami bicarakan ada 13 titik, di luar Malioboro,” ungkapnya.

Tempat mangkal taksi dan ojek online di pinggir jalan juga kerap membuat lalu-lintas semakin semrawut. Untuk itu, pihaknya juga berharap penyedia aplikasi dapat bekerja sama dengan hotel-hotel agar para driver bisa mangkal di areal hotel.

Kepala Dishub Kota Jogja, Agus Arif, mengatakan akan bertemu dengan para penyedia aplikasi ini untuk membicarakan terkait pick up dan drop area serta persoalan lainnya. “Subtitusinya jangan ke pemerintah dong, kan mereka yang punya bisnis,” ujarnya.

Ia menyarankan agar titik-titik itu bisa disediakan di kawasan pendukung Malioboro, sehingga ia berharap kedepan tidak ada lagi taksi online berhenti di jalan Malioboro. “Karena berhenti lima detik aja dampaknya bisa sampai Kleringan,” ungkapnya.

Titik pick up dan drop ini menurutnya juga tidak bisa diadakan di dalam Malioboro karena melihat kondisi lapangan yang sudah sangat padat bahkan untuk berkendara biasa. “Sebab orang itu belum tentu pengen ke Malioboro tapi tetap lewat Malioboro, dan jalannya pelan, lihat kanan kiri. Mereka menikmati the legend place.”