PPDB 2019: SMAN 1 Temon Kekurangan Murid

Ilustrasi PPDB - Harian Jogja/Uli Febriarni
01 Juli 2019 23:57 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—SMAN 1 Temon, Kecamatan Temon kekurangan murid setelah lima calon muridnya ternyata memilih mendaftar ke sekolah lain dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019.

Berdasarkan jadwal resmi hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019, SMAN 1 Temon hanya mendapatkan siswa sebanyak 101 orang padahal kuota murid baru di sekolah itu sebanyak 144 anak.

Setelah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY terkait dengan kekurangan siswa, SMAN 1 Temon langsung mengecek lima calon siswa yang memungkinkan untuk didaftarkan sebagai tambahan. Namun, lima calon siswa itu sudah mendaftar ke sekolah lain.

“Upaya mencari calon murid di daerah pelosok tidak membuahkan hasil. Sebanyak lima calon murid itu merupakan bagian dari 31 nama yang disodorkan Disdikpora DIY sebagai calon murid tambahan,” ungkap Kepala SMAN 1 Temon, Agus Nur Khafid, Senin (1/7).

Sebanyak 31 nama itu banyak yang tidak memungkinkan ditambah karena setelah diverifikasi, lokasi tinggal calon-calon siswa sangat jauh. Ada yang dari Gunungkidul dan ada pula yang dari Purworejo, Jawa Tengah.

Agus memaparkan ada lima nama yang memungkinkan masuk sebagai tambahan siswa SMAN 1 Temon namun setelah dicek ke alamat masing-masing calon itu, ternyata kelima anak tersebut telah mendaftar ke sekolah lain.

Imbasnya, SMAN 1 Temon tetap mendapatkan 101 siswa dalam PPDB 2019. Sekolah memutuskan dari 101 anak yang masuk, nantinya dibagi ke dalam tiga kelas. Sebanyak satu kelas untuk Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan dua kelas untuk Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

"Kami [SMAN 1 Temon] kekurangan siswa yang IPS. Ada satu kelas kosong karena 36 kuota tidak ada yang daftar. Untuk satu kelasnya lagi kurang tujuh siswa,” ucap Agus. Ia mengatakan kekurangan siswa tersebut disebabkan karena faktor sistem zonasi.

 Dua Sekolah

Dahulunya, sebelum sistem zonasi, SMAN 1 Temon belum pernah kekurangan siswa. Karena letaknya yang berada di perbatasan antara Purworejo dan Kulonprogo, membuat banyak siswa dari Purworejo yang masuk ke SMAN 1 Temon. Namun, setelah sistem zonasi diberlakukan, siswa dari Purworejo tidak ada lagi yang masuk ke SMAN 1 Temon.

Perubahan petunjuk teknis (juknis) PPDB tahun ini dari Disdikpora DIY membuat sebagian desa yang sebelumnya masuk zona SMAN 1 Temon pindah ke Wates. “Padahal, rencananya semua desa di Temon ini masuk zona SMAN 1 Temon. Kalau seperti itu kemungkinan tidak akan kekurangan siswa,” kata Agus.

Menurut dia, dampak yang akan dirasakan ketika kekurangan siswa yaitu kewajiban jam mengajar guru yang ikut berkurang. Guru diwajibkan mengajar dengan alokasi waktu 24 jam dalam sepekan. Ketika siswa kurang, banyak guru yang kemudian harus mencari tambahan jam mengajar di sekolah lain.

Kepala Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) Kulonprogo Hendri Tatik Widayati mengungkapkan  tidak hanya SMAN 1 Temon saja yang kekurangan siswa dalam pelaksanaan PPDB SMA di Kulonprogo. Ada dua sekolah lain yang kekurangan siswa, yakni Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Temon dan SMAN 1 Samigaluh.