Begini Tahapan Proyek Revitalisasi Stasiun Tugu Jogja

Ilustrasi Stasiun Tugu Yogyakarta
19 Juli 2019 06:07 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Revitalisasi Stasiun Tugu Jogja yang akan dilakukan mulai tahun ini terdiri dari lima tahapan. Tahap pertama dimulai dari sisi timur.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti mengatakan desain rencana revitalisasi stasiun tugu sudah disepakati oleh lima pihak yang terjalin kerjasama. Mulai Pemkot, Pemda DIY, Kraton Jogja, PT KAI dan Hutama Karya selaku pengembang. Desian yang diusung, meski tampil modern tetapi tetap menonjolkan kekhasan Jogja.

"Desain sudah disepakati bersama lima pihak. Revitalisasi meliputi kawasan seluas 8 hektare, dengan luas bangunan 135.000 meter persegi atau 13,5 hektare. Estimasi biayanya sekitar Rp854 miliar," kata Haryadi, Kamis (18/7/2019).

Dia mengatakan, revitalisasi stasiun tersebut dibagi dalam lima tahap. Tahap pertama dimulai dari sisi timur stasiun tugu hingga ke pintu masuk sisi Selatan (depan jalan Bhayangkara). Dari Timur (Kafe Loko) ke Utara hingga jalan Wongsodirjan (Kopi Jos) hingga ke sisi Barat. "Revitalisasi dilakukan bertahap. Itu tahap pertama. Kemudian dilanjutkan ke tahap kedua hingga kelima di kawasan Stasiun Tugu," kata Haryadi.

Wilayah perkantoran di sisi Barat sebelah Utara dan Selatan Stasiun Tugu seperti Kantor Kecamatan Gedongtengen, Kantor Samsat, dan gedung pemerintahan lainnya, lanjut Haryadi, masuk dalam tahap selanjutnya. "Kantor-kantor pemerintah tidak masuk tahap pertama. Menunggu tahapan pertama selesai," katanya.

Menurutnya, revitalisasi Stasiun Tugu sebagian masih mempertahankan bangunan lama (eksisting) dan sebagian lainnya direvitalisasi. Secara arsitektur, kawasan ini akan memiliki fungsi stasiun, parkir, kawasan zona komersial, termasuk ruang terbuka hijau.

Salah satu pengembangan yang akan dilakukan adalah rencana peron khusus bagi kereta bandara. "Kalau saat ini untuk kereta bandara peron dilayani di sisi Selatan, ke depan sisi Utara akan dijadikan akses (peron) khusus kereta bandara," katanya.

Revitalisasi stasiun tugu, kata Haryadi akan menjadikan sub kawasan Malioboro itu sebagai pintu gerbangnya Jogja. Sebab Stasiun Tugu akan menjadi pintu perlintasan para wisatawan yang masuk melalui bandara YIA. Mau tidak mau, katanya, sistem transportasi harus dibenahi untuk menampung wisatawan yang masuk Jogja. "Dengan kapasitas bandara YIA 26 juta orang per tahun, ambil 50% nya saja yang masuk tempat wisata di Jogja, maka akses ke Malioboro harus lebih representatif," kata Haryadi.

Meski begitu, Haryadi belum bisa membeberkan secara detail setiap tahapan yang akan dilakukan untuk pengembangan kawasan tersebut sebagai Transit Oriented Development (TOD). "Nanti pada saatnya kami akan gelar konferensi pers. Sebab informasi ini juga menjadi kesiapan bagi masyarakat untuk menyesuaikan dengan perubahan pola arus lalulintas, pola masuk ke stasiun, selama proses pembangunan berlangsung. Sebab pelayanan publik tidak berhenti dan angkutan kereta tidak boleh terganggu dengan proyek ini," kata Haryadi.