Jogja Cross Culture Padukan Beragam Kebudayaan Jogja

Wayang kulit saat dipentaskan dalam Pentas Seni Rintisan Kelurahan Budaya Cokrodiningratan, Sabtu (27/10/2018). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
31 Juli 2019 21:02 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebagai salah satu upaya mengukuhkan predikat Jogja sebagai Kota Budaya di tingkat ASEAN pada 2018-2020, Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja bekerja sama dengan sejumlah komunitas budaya Jogja akan menggelar Jogja Cross Culture pada Sabtu-Minggu (3-4/8/2019).

Wakil Wali Kota Jogja, sekaligus Ketua Panitia Jogja Cross Culture, Heroe Poerwadi, mengatakan hadirnya konsep budaya yang bercampur perlu dimaknai sebagai persilangan budaya yang menjadi kaya di Jogja. Meski demikian bukan berarti menghilangkan kultur lokal yang telah mengakar.

"Di Jogja ternyata kultur ini bisa berkomunikasi sehingga melahirkan beberapa aktivitas perkawinan budaya dan tradisi lokal dengan asing. Inilah yang kita gunakan sebagai tajuk dan menunjukkan bahwa Jogja mempunyai kultur yang lebih luas,” kata dia kepada wartawan, Selasa (30/7/2019).

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Jogja, Eko Suryo Maharsono, mengatakan kegiatan ini merupakan gerakan berbasis budaya dan mengusung pula semangat Gandeng Gendong dengan elemen 5K, yakni kota, kampung, kampus, komunitas dan korporasi.

"Tugas kami di kebudayaan adalah melakukan pembinaan. Baik untuk para pelaku seni dan juga masyarakat. Acara ini juga mengetengahkan hakikat dari kebudayaan di Kota Jogja Budaya yang telah menyesuaikan dengan perkembangan zaman tetapi ruhnya tidak berubah,” ujarnya.

Pada elemen kampung, 14 kecamatan di Kota Jogja terlibat langsung dalam rangkaian acara, seperti pembuatan jenang khas Jogja bernama Jenang Golong Gilig, yang akan diluncurkan di acara tersebut. Mereka juga akan terlibat pula dalam penampilan tari rakyat yang juga digelar tepat di Titik Nol Kilometer, Jogja secara bersama-sama dengan kolaborasi penampilan dalam Njoged Njalar.

Keterlibatan lain dari perwakilan wilayah ini yakni pada aktivitas yang mengedepankan edukasi sejarah, dikemas dalam tajuk Historical Trail Jeron Benteng. Aktivitas yang terbuka juga untuk umum ini mengajak pesertanya menyusuri tempat-tempat bersejarah Jeron Benteng.

Elemen kampus diusung sebagai ruang persiapan Cross Culture Performance. Gelaran acara tersebut akan diisi dengan peluncuran program Gandes Luwes dari Pemkot Jogja, dengan puncaknya berupa Historical Orchestra dan Cross Culture Performance.

Program Director Jogja Cross Culture, Altiyanto Henryawan, menuturkan lintas budaya dari segi era dipresentasikan pada Sabtu dalam penampilan Wayang Kota yang merupakan kolaborasi wayang ukur yang diperkenalkan oleh maestro wayang Sigit Sukasman dengan lima dalang generasi milenial. Pada kesempatan ini, mereka akan menampilkan lakon Kancing Jaya.

Dia mengatakan budaya adalah sebuah cara hidup yang tumbuh dan berkembang pada sebuah kelompok dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. “Titik tekan program ini adalah bagaimana budaya itu hidup dan menghidupi. Gerakan pembinaan dan penguatan budaya di kelompok-kelompok inilah yang sebenarnya menjadi fokus utama,” kata dia.