Lokasi SIM Keliling Jogja Jumat 18 September 2026 dan Syaratnya
Jadwal SIM Keliling Jogja Jumat 18 September 2026 beserta lokasi Satpas, Syarat perpanjangan SIM A dan SIM C aktif agar tak antre.
I Made Sudana Staf Inclusive Community Sapda (ketiga dari kiri) menyerahkan rekomendasi kebijakan terkait kajian RUU PKS kepada Redaktur Pelaksana Harian Jogja, Nugroho Nurcahyo, Kamis (22/8/2019). /Harian Jogja-Sunartono.
Harianjogja.com, JOGJA—Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (Sapda) Yogyakarta mendorong Rancangan Undang-Undang (RUU) penghapusan kekerasan seksual (PKS) untuk segera disahkan di DPR RI.
Konsultan Gender Sapda Sri Surani berharap semua media massa lebih sensitif dengan isu penyandang disabilitas. Salah satunya berkaitan dengan RUU PKS yang hingga saat ini belum disahkan oleh DPR. Ia berharap media yang memiliki jangkauan luas, turut serta membantu penyandang disabilitas dalam menyuarakan pentingnya disahkannya RUU PKS.
“Kami dari Sapda terus berupaya mendorong agar RUU PKS ini bisa segera disahkan, dan kami sangat berharap media bisa menyuarakan ini,” katanya dalam kunjungan di Kantor Harian Jogja, Kamis (22/8/2019).
Koordinator Women Disability Crisis Center Sapda Sri Lestari menambahkan masyarakat sering melihat difabel hanya dalam perspektif infrastruktur saja, padahal banyak persoalan seperti kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang sering menimpa penyandang disabilitas. Sehingga berbagai persoalan kekerasan itu tertutup dan tak begitu terungkap untuk dicarikan solusinya.
“Di balik itu penyandang disabilitas juga punya hak privasi, kami sering tidak diakui sebagai subjek hukum dan selalu hanya diakui sebagai objek hukum saja,” ucapnya.
Di sisi lain kasus kekerasan terhadap penyandang disabilitas di DIY tergolong tinggi. Sejak 2010 hingga 2019 ini Sapda mencatat ada 140 kasus yang didominasi kekerasan seksual dan KDRT. “Itu data yang masuk ke kami, korban itu melapor dan meminta pendampingan, belum termasuk lembaga lain, jadi kami prediksi jumlahnya lebih dari itu [140 kasus],” katanya.
Staff Sexual and Reproductive Health Right Sapda Sholih Muhdlor menyatakan, Sapda memberikan sejumlah rekomendasi terkait RUU PKS, antara lain terkait pengertian penyandang disabilitas serta terkait situasi khusus terkait ragam disabilitas dan ragam fasilitas. Kemudian pencegahan kekerasan seksual tidak hanya dilakukan lembaga pendidikan saja namun juga lembaga lain yang bersentuhan langsung dengan disabilitas.
“Kemudian kami merekomendasikan penghapusan pasal terkait pemaksaan penggunaan alat kontrasepsi bagi perempuan dengan disabilitas yang disetujui oleh keluarga, ini tertuang dalam Pasal 104 RUU tersebut [PKS],” ujarnya.
Sejumlah aktivis Sapda yang turut hadir dalam kunjungan ke Kantor Harian Jogja, adalah Umi Masruroh selaku Divisi Inclusive Community, Randi Dwi Anggriawan yang juga koordinator media Sapda serta I Made Sudana Staf Inclusive Community Sapda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal SIM Keliling Jogja Jumat 18 September 2026 beserta lokasi Satpas, Syarat perpanjangan SIM A dan SIM C aktif agar tak antre.
Pesawat F-2000 Italia terkena serangan di Pangkalan Udara Ta'if, Arab Saudi, saat serangkaian serangan terjadi di kawasan tersebut.
Kemenkeu menyatakan dana angsuran pertama KDKMP sebesar Rp40 triliun sudah disiapkan, tetapi masih menunggu tagihan Himbara.
Kekeringan melanda 17 kapanewon di Gunungkidul. Sebanyak 2.811 tangki atau 14,05 juta liter air bersih telah disalurkan.
DKP Bantul mengungkap kendala UMKM olahan ikan menembus pasar ekspor, mulai kapasitas produksi hingga rantai pasok.
Dispar Kulonprogo mempertemukan 30 pengelola desa wisata dengan 30 buyer Jateng-DIY melalui business matching paket wisata.