Dompet Dhuafa Gulirkan Bestian Sama Yatim
Program muliakan anak yatim dengan BesTeam (Bestian Sama Yatim) digulirkan Dompet Dhuafa sebagai bagian rangkaian Tahun Baru Islam 1448 H.
Kepala Dinas Kebudayaan, Eko Suryo Maharsono (kanan) memaparkan materinya dalam gelar wicara Pameran Museum Kota Jogja di Omah Duwur Resto, Sabtu (14/9/2019)./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL—Deretan bangunan bersejarah dan budaya keseharian masyarakat Kotagede yang unik tidak dimiliki daerah lain. Inilah yang lantas menjadi alasan utama Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Jogja menjadikan kawasan Kotagede sebagai sebuah living museum.
Kotagede sebagai living museum dibahas dalam Pameran Museum Kota Jogja yang digelar Dinas Kebudayaan Jogja selama dua hari, mulai dari Jumat-Sabtu (13-14/9/2019). Acara tersebut digelar dalam dua format yang berbeda, yakni dalam bentuk gelar wicara dan jelajah budaya.
Dengan mengajak berbagai komunitas di Kotagede dan sekitarnya, Disbud Jogja mengunjungi sejumlah tempat di Kotagede di antaranya ke Sekar Kedaton, HS Silver, Ansor Silver, Omah Duwur, dan Ndalem Natan yang memiliki nilai sejarah dari masyarakat Kalang.
Tidak hanya tempat bersejarah tapi juga potensi kerajinan, kuliner, lingkungan dan arsitektur, kesenian, hingga lahirnya gerakan sosial di Kotagede. "Living museum itu saya artikan kampung lawasan yang memiliki cerita menarik di dalamnya, yang masih tersedia benda lawas, koleksi lawas, kuliner lawas, sampai keseniannya asli ada di situ," kata Kepala Dinas Kebudayaan, Eko Suryo Maharsono, dalam gelar wicara yang digelar di Omah Duwur Resto, Sabtu (14/9/2019).
Eko mengatakan Kotagede sebagai kawasan living museum akan maju jika semua komunitas di sekitarnya bergerak. Terlebih Kotagede sudah terkenal sampai luar negeri bahkan menjadi salah satu kawasan terindah di Asia. Sayangnya, berbagai keunikan di Kotagede masih banyak yang belum terinformasikan secara maksimal.
Kepala Bidang Sejarah dan Bahasa Dinas Kebudayaan Jogja, Dwi Hana Cahya Sumpena mengatakan talkshow pameran museum sebagai pencerahan agar komunitas memahami bagaimaba kondisi Kotagede dahulu kala. "Diharapkan potensi potensi di Kotagede dikenal masyarakat luas dengan ciri khas dan keunikannya, sehingga bisa mendatangkan pengunjung baik wisatawan maupun berbisnis," kata Dwi Hana.
Ketua Dewan Kebudayaan Jogja Achmad Charris Zubair mengatakan Omah Duwur menjadi salah satu tinggalan dari Prawirosuwarno, masyarakat Kalang atau saudagar di Kotagede. Dia berharap orang datang ke Kotagede tidak hanya bernostalgia, namun juga ada spirit yang bisa dibangkitkan, di antaranya semangat kewirausahaan, ketangguhan, kekerabatan, kesediaan menolong, dan rela berkorban untuk bangsa dan negara. "Jadi ada nilai spirit orang Kalang Kotagede," kata Charris.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Program muliakan anak yatim dengan BesTeam (Bestian Sama Yatim) digulirkan Dompet Dhuafa sebagai bagian rangkaian Tahun Baru Islam 1448 H.
Cek jadwal 6 bansos September 2026, mulai PKH, BPNT, beras, PIP, PBI JKN hingga KIP Kuliah dan BLT Kesra Rp900.000.
LLDIKTI V menginisiasi konsorsium perguruan tinggi se-DIY untuk memperkuat kolaborasi kampus, pemerintah, dunia usaha, dan industri.
Dugaan keracunan MBG di Bantul ternyata menimpa 70 murid di empat sekolah. SPPG Patalan 2 kini diberhentikan operasionalnya.
Karhutla di sekitar IKN dan Bukit Soeharto dipastikan padam. OIKN tetap melakukan patroli untuk mencegah kebakaran kembali.
Mantan Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga meninggal dunia pada usia 76 tahun. Ia dimakamkan di San Diego Hills, Karawang.