RSPS Bantul Raih ISO 27001:2022, Perkuat Keamanan Data Pasien
Sertifikasi ISO 27001:2022 ini menjadi bukti keseriusan RSUD Panembahan Senopati Bantul dalam memberikan layanan yang aman dan profesional
Kepala Dinas Kebudayaan, Eko Suryo Maharsono (kanan) memaparkan materinya dalam gelar wicara Pameran Museum Kota Jogja di Omah Duwur Resto, Sabtu (14/9/2019)./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL—Deretan bangunan bersejarah dan budaya keseharian masyarakat Kotagede yang unik tidak dimiliki daerah lain. Inilah yang lantas menjadi alasan utama Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Jogja menjadikan kawasan Kotagede sebagai sebuah living museum.
Kotagede sebagai living museum dibahas dalam Pameran Museum Kota Jogja yang digelar Dinas Kebudayaan Jogja selama dua hari, mulai dari Jumat-Sabtu (13-14/9/2019). Acara tersebut digelar dalam dua format yang berbeda, yakni dalam bentuk gelar wicara dan jelajah budaya.
Dengan mengajak berbagai komunitas di Kotagede dan sekitarnya, Disbud Jogja mengunjungi sejumlah tempat di Kotagede di antaranya ke Sekar Kedaton, HS Silver, Ansor Silver, Omah Duwur, dan Ndalem Natan yang memiliki nilai sejarah dari masyarakat Kalang.
Tidak hanya tempat bersejarah tapi juga potensi kerajinan, kuliner, lingkungan dan arsitektur, kesenian, hingga lahirnya gerakan sosial di Kotagede. "Living museum itu saya artikan kampung lawasan yang memiliki cerita menarik di dalamnya, yang masih tersedia benda lawas, koleksi lawas, kuliner lawas, sampai keseniannya asli ada di situ," kata Kepala Dinas Kebudayaan, Eko Suryo Maharsono, dalam gelar wicara yang digelar di Omah Duwur Resto, Sabtu (14/9/2019).
Eko mengatakan Kotagede sebagai kawasan living museum akan maju jika semua komunitas di sekitarnya bergerak. Terlebih Kotagede sudah terkenal sampai luar negeri bahkan menjadi salah satu kawasan terindah di Asia. Sayangnya, berbagai keunikan di Kotagede masih banyak yang belum terinformasikan secara maksimal.
Kepala Bidang Sejarah dan Bahasa Dinas Kebudayaan Jogja, Dwi Hana Cahya Sumpena mengatakan talkshow pameran museum sebagai pencerahan agar komunitas memahami bagaimaba kondisi Kotagede dahulu kala. "Diharapkan potensi potensi di Kotagede dikenal masyarakat luas dengan ciri khas dan keunikannya, sehingga bisa mendatangkan pengunjung baik wisatawan maupun berbisnis," kata Dwi Hana.
Ketua Dewan Kebudayaan Jogja Achmad Charris Zubair mengatakan Omah Duwur menjadi salah satu tinggalan dari Prawirosuwarno, masyarakat Kalang atau saudagar di Kotagede. Dia berharap orang datang ke Kotagede tidak hanya bernostalgia, namun juga ada spirit yang bisa dibangkitkan, di antaranya semangat kewirausahaan, ketangguhan, kekerabatan, kesediaan menolong, dan rela berkorban untuk bangsa dan negara. "Jadi ada nilai spirit orang Kalang Kotagede," kata Charris.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sertifikasi ISO 27001:2022 ini menjadi bukti keseriusan RSUD Panembahan Senopati Bantul dalam memberikan layanan yang aman dan profesional
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Jadwal KRL Solo–Jogja terbaru 2026 lengkap dari Palur ke Tugu. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan efisien.
3 pelaku pembacokan pelajar di SMAN 3 Jogja ditangkap di Cilacap. Polisi masih memburu 3 pelaku lain terkait konflik geng.
Dua kakak beradik tewas dalam kecelakaan melibatkan dua truk di Ngawi. Polisi masih selidiki identitas kendaraan.
Polres Bantul perketat patroli malam untuk tekan klitih dan kejahatan jalanan. Orang tua diminta awasi anak sebelum jam 22.00 WIB.