Pringgokusuman Gelar Kenduri Jenang Suran

Kenduri Jenang Suran di Pringgokusuman, Selasa (17/9/2019). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
18 September 2019 06:37 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Bagi masyarakat Jawa, bulan suro bukan saja awal Tahun Baru dan sistim penanggalan jawa. Bulan ini juga dianggap sebagai bulan sakral. Berbagai upacara dan ritual tradisional kerap di lakukan demi ngalap (mencari) berkah.

Lurah Pringgokusuman Eni Purwati mengatakan bulan Suro yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam atau hijriah memiliki makna tersendiri bagi masyarakat DIY. Mereka mengisi dengan berbagai kegiatan, salah satunya yang digelar masyarakat Pringgokusuman dengan kenduri jenang suran.

"Ini tradisi turun temurun. Yang digelar bersama warga satu kelurahan adalah yang keempat kalinya," katanya kepada Harianjogja.com, Selasa (17/9/2019).

Sebelumnya, tradisi tersebut hanya digelar di masing masing RT. Dikarenakan ada potensi budaya yang tinggi, tradisi tersebut kemudian dijadikan tradisi tahunan warga Pringgokusuman. "Dulu hanya sebagian RW yang melaksanakan kenduren jenang suran ini, kemudian kami akomodir menjadi program kelurahan," kata Eni.

Kenduren jenang suran, kata Eni, digelar sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas segala rejeki, limpahan rahmat yang selama ini diberikan oleh Tuhan. "Selain ngalap berkah dan menjaga tradisi, kegiatan ini juga memupuk gotong royong warga. Warga yang terlibat berasal dari 22 RT dari tujuh kampung yang ada," kata Eni.

Suro sendiri, kata Eni, merupakan sebutan bagi bulan Muharram dalam masyarakat Jawa. Kata tersebut sebenarnya berasal dari Kata Asyuro dalam bahasa Arab yang berarti sepuluh yakni 10 Muharrom. Karena pentingnya tanggal itu, oleh masyarakat Islam Indonesia, Jawa utamanya tanggal itu menjadi lebih terkenal di banding nama bulan Muharram itu sendiri.

"Kata Suro itu sendiri menunjukkan arti penting 10 hari pertama bulan itu dalam sistem kepercayaan Islam Jawa. Di mana dari 29 atau 30 hari bulan Muharram yang dianggap paling sakral adalah 10 hari pertama. Atau lebih tepatnya tanggal 1 hingga 8, saat di mana acara Kenduri Memang Suran ini kami gelar," katanya.

Kelurahan Pringgokusuman, lanjut Eni, mempunyai dua tempat pemandian yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwona ke VII. Yakni, Candi Donotirto yang terletak di Kemetiran Kidul dan Candi Wadon yang berada di Kampung Pringgokusuman. Dua tempat pemandian ini bersumber dari Kali Larangan yang airnya juga merupakan bagian dari Kali Winongo dan Kali Buntung.

"Sebelum prosesi digelar, warga mengarak Jenang Manggul bersama air suci dari pemandian candi Donotirto ke Ndalem Notoyudan. Kemudian dikondisikan. Ada juga gunungan yang dirayah oleh warga," katanya.

Kegiatan kenduri tersebut sebagian dibiayai dengan anggaran Pelimpahan Kewenangan yang ada di Kelurahan dan dana swadaya masyarakat Se-Kelurahan Pringgokusuman. Eni optimistis pada kegiatan tahun depan, masyarakat bisa lebih atraktif menggelar tradisi ini. Alasannya, setiap tahun partisipasi masyarakat yang terlibat pada kegiatan tersebut cukup tinggi dan kreatif.

"Sebagai kelurahan rintisan budaya, kami berharap ke depan tradisi ini mampu menjadi khasanah budaya masyarakat Pringgokusuman. Tidak hanya itu, ke depan bisa menjadi salah satu atraksi wisata budaya untuk mensejahterakan masyarakat," katanya.

Sementara itu, Wakil Walikota Jogja Heroe Poerwadi berharap agar kegiatan tersebut tidak hanya menggelar pawai dan kenduri saja tetapi mampu mengangkat seluruh potensi yang ada di kelurahan. Ke depan, Heroe berharap tradisi tersebut juga dibumbuhi oleh atraksi seni dan budaya masyarakat. "Sehari sebelumnya ada atraksi kesenian yang ditampilkan. Potensi kaliber juga dikeluarkan agar nanti bisa mendatangkan wisatawan," kata Heroe.