200 Perupa Dilibatkan di Nandur Srawung

Pengunjung melihat lebih dekat salah satu karya instalasi yang dipamerkan di acara Nandur Srawung di kompleks Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Rabu (18/9/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
19 September 2019 17:47 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tahun ini, Nandur Srawung kembali dihelat pada tahun keenamnya, dengan mengangkat tema Gegayutan. Dalam acara seni tahunan itu, sebanyak 200 perupa terlibat dalam pameran sekaligus temu seniman di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), mulai Rabu-Jumat (18-27/9/2019).

Dalam event tersebut, sejumlah kegiatan digelar, di antaranya Srawung Moro, Srawung Temu, Srawung Panggih, Pasar srawung dan Panggung Srawung. Adapun pameran seni rupa dikuratori oleh lima seniman, yakni Rain Rosidi, Sujud Dartanto, Irine Agrivine, Arista Pinandita dan Bayu Widodo.

Tak hanya itu, dalam Nandur Srawung tahun ini juga diserahkan dua penghargaan kepada seniman, yakni Young Rising Artist yang diberikan kepada Lejar Daniartama Hukubun dan Lifetime Achivement Award yang diberikan kepada Samuel Indratama.

Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Aris Eko Nugrogoho di Panggung Terbuka TBY, dengan dimeriahkan oleh penampilan sejumlah grup band, yakni Tashoora, Sungai dan Liburan Di Rumah. Di selasar ruang pameran, dibuka berbagai lapak kerajinan dan kuliner.

Kepala TBY, Diah Tutuko menjelaskan Nandur Srawung merupakan jembatan pengetahuan yang terputus antargenerasi perupa, baik terpaut jarak maupun waktu. "Acara itu diharapkan bisa memperkaya konten dan wacana seni rupa di Jogja maupun Indonesia," ujarnya.

Adapun tema Gegayutan, secara umum berarti bersama-sama. Hal ini selaras dengan konsep komunitas peer to peer, di mana pengetahuan dibagikan dengan merata, tanpa ada sentralisasi dari satu pihak tertentu. Kebersamaan ini juga selaras dengan asas Kota Jogja yang kental akan gotong royong dan tepa slira.

Salah satu kurator pameran seni rupa Nandur Srawung, Rain Rosidi, mengungkapkan dalam Srawung Temu, ada tiga seniman yang berkarya di sejumlah pelosok Jogja. Masing-masing adalah Ruthy Lilipaly di Studio Gunung; Liz Bastard di Pesantren Kaliopak; dan Yanuar Ikhsan di Sanggar Sejati.

Di sana mereka tinggal beberapa hari dan karyanya dipamerkan di ruang pamer Nandur Srawung. "Kami memberi kesempatan kepada para seniman dan komunitas seni untuk menunjukkan semangat gegayutan. Dalam Srawung Temu mereka bersama bertukar ilmu dan mewujudkan gagasan dalam bentuk karya," kata dia.

Adapun di Srawung Panggih, para kurator akan berdiplomasi dan bekerjasama dengan institusi seni internasional. Tahun ini kunjungan akan dilangsungkan di negara-negara Asia Tenggara. Selain kunjungan, tim juga akan melakukan pertukaran perupa.