Siswa SD di Kulonprogo Dicekoki Minuman Oplosan di Sekolah Hingga Keracunan

Orang tua ARP, Waluyo Widodo menunjukkan hasil pemeriksaan kesehatan ARP dari RSUD Wates pada Selasa (24/9/2019) di rumahnya di Kecamatan Wates. - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
24 September 2019 17:37 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Seorang siswa SD di Kecamatan Wates, ARP, berusia 10 tahun mengaku dicekoki oplosan soda campur lotion antinyamuk oleh kakak kelasnya hingga dibawa ke rumah sakit karena keracunan. Orang tua siswa meminta pihak sekolah ikut turun tangan.

Orang tua korban, Waluyo Widodo mengatakan, pada Rabu (18/9/2019) anaknya mengeluh pusing dan mual setelah pulang sekolah. Pihak orang tua diberi tahu teman-teman ARP, bahwa korban dicekoki minuman oplosan (soda bermerek sprite campur lotion anti nyamuk bermerek autan), dari dua siswa lainnya di SD tersebut.

Seketika orang tua bertindak agar anak ARP bisa muntah. Keesokan harinya korban dibawa ke rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan kesehatan, baru diketahui, cairan yang dicekoki pada korban merupakan oplosan yang tidak semestinya dikonsumsi.

Setelah ditelusuri, korban dicekoki oplosan oleh dua orang kakak kelasnya, berinsial D dan A di SD tersebut saat jam istirahat. Mereka berdua membuat oplosan di belakang sekolah, dan mencekoki korban di halaman depan sekolah.

"Pas istirahat kedua itu, anak saya main-main di sekolah, lalu dikasih tahu temannya, suruh minum. Langsung diminum saja, dikiranya sprite saja, tidak ada campuran apapun. Tapi jadi langsung sakit," kata Waluyo pada Selasa (24/9/2019).

ARP sempat dirawat satu hari di RSUD Wates. "Diberi obat, disuntik antiracun. Untuk netralisir akibat keracunan. Akibat itu kan ke lambung dan ada juga dampak kekurangan darah dari hasil lab," kata Waluyo.

Pihaknya langsung melaporkan kejadian itu pada pihak sekolah karena kejadian berlangsung saat kegiatan di sekolah. "Dari pihak sekolah, guru dan kepala sekolah tidak ada respons yang positif. Menyepelekan dengan adanya kasus ini," terang Waluyo.

Ia mengaku kecewa lantaran pihak sekolah menganggap sepele dengan mengatakan kejadian itu bukan ARP saja yang kena, tapi banyak siswa lainnya. Padahal menurut Waluyo, meski bukan anaknya saja, tapi setidaknya pihak sekolah bisa menindaklanjuti dan mendampingi perilaku D dan A.

Ia meminta, agar penyelesaian kasus tersebut tidak sebatas hanya mendengar keterangan dari pihaknya dan pihak orang tua kedua siswa yang mencekoki ARP saja, tapi harus melibatkan semua wali murid.

Pada Jumat (20/9/2019) pihaknya dipertemukan dengan kedua wali murid D dan A. Setelahnya, kedua wali murid D dan A mendatangi rumah Waluyo membicarakan persoalan itu.

Ia juga sempat menanyakan sebab kelakuan D dan A bisa seperti itu. Setelahnya ia mengetahui, perbuatan D dan A dipengaruhi oleh kelakuan tetangganya yang duduk di bangku SMP dan melakukan pengoplosan serupa. Tidak hanya dipengaruhi tetangga, kedua bocah SD itu bahkan sampai mencari tahu minuman oplosan dari video di YouTube.

ARP mengaku ia berteman dengan D dan A, ketika main ia ditawari sebuah minuman. Karena ia mengira hanya minuman soda biasa, ia langsung meminumnya. "(Minum) tidak terlalu banyak. Setelah sekolah langsung pusing sama mual," bebernya. Ia berujar, setelah kejadian itu dan tahu dirinya sakit, D dan A meminta maaf padanya.

Kepala SD setempat, Gunardi mengaku masalah itu sudah selesai. Pihaknya sudah memediasi kedua belah pihak. "Sudah dimediasi. Kami koordinasi dengan dinas," ungkapnya pada Selasa (24/9/2019).

Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kulonprogo, Suharyono mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan pihak sekolah. "Yang jelas dari kejadian itu, peran keluarga harus ditingkatkan. Di dunia pendidikan ini harus ada sinergi antara keluarga, sekolah, pemerintah," jelasnya pada Selasa.