Joglitfest, Pemantik Perkembangan Sastra di Tengah Dominasi Teknologi

Suasana pembukaan Joglitfets di area Monumen SO 1 Maret Jogja, Jumat (27/9/2019). - Ist/Dok Panitia
29 September 2019 00:17 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Pembukaan Jogja Literary Festival (Joglitfest), di area Monumen Serangan Oemoem 1 Maret Jogja, Jumat (27/9) malam berlangsung meriah. Pembukaan diawali dengan sajian Symphoni Orkestra dan Gabrilia Fernandez.

Dalam sambutannya, Sekda DIY Gatot Saptadi mengatakan event tersebut menunjukkan sastra dan budaya akan membawa nilai positif dalam aspek kehidupan saat kehidupan manusia telah didominasi oleh teknologi. "Sastra dan budaya dapat menawarkan keindahan, untuk memanusiakan manusia dan memperindah keindahan dunia," ujar Gatot saat membuka kegiatan Joglitfets 2019.

Selain Gatot pembukaan Joglitfest juga dihadiri oleh Staf Ahli Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Chatarina Gingsar, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Aris Eko Nugroho dan sejumlah perwakilan Forkopimda DIY. Pembukaan dilakukan secara simbolis dengan memberikan buku antalogi puisi dari panitia kepada sejumlah pejabat.

Gatot menambahkan Pemda menyambut baik festival sastra tersebut karena menjadi simbol istimewa, banyak pesan moral yang muncul dari kegiatan tersebut. "Nilai keluhuran karena acara ini makin menangguhkan nilai keistimewaan Jogja, menyuguhkan nilai universal dari Jogja untuk Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Staf Ahli Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Chatarina Gingsar mengatakan Joglitfest merupakan wujud perkembangan sastra di Jogja, baik sastra Jawa yang berbasis tradisi maupun sastra modern. Dia berharap kegiatan tersebut dapat terus berlanjut di kemudian hari dan mampu menginisiasi terbentuknya kegiatan serupa di daerah lain di Indonesia.

"Ini yang kami harapkan. Bagaimana sastra dan budaya di masyarakat terus berkembang dan tidak lekang dengan perubahan zaman, lestari dan nilai-nilai di dalamnya juga dipahami oleh masyarakat. Apalagi Jogja banyak melahirkan sastrawan Indonesia," katanya.

Joglitfest akan berlangsung hingga 30 September. Meski dibuka resmi di titik nol Jogja, namun ragam kegiatan Joglitfest dilaksanakan juga di beberapa lokasi, mulai MTsN 9 Jogja, Hotel Cavinton, Hotel Melia Purosani, dan Banteng Vredeburg.

Kepala Dinas Kebudayaan Aris Eko Nugroho mengatakan Joglisfest dimulai sejak pra-acara awal Agustus dan akan selesai 30 September 2019. "Joglitfest adalah upaya pemantik perkembangan literasi dan sastra yang berkembang di Jogja," ungkap Aris.

Joglitfest terselengggara berkat kerjasama Dinas Kebudayaan bersama Indonesiana, lembaga platform Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang dibentuk untuk mendorong dan sekaligus memperkuat upaya pemajuan kebudayaan. 

Hal ini sesuai UU No.5/2017 melalui gotong royong penguatan kapasitas daerah dalam menyelenggarakan kegiatan budaya sesuai azas, tujuan, dan objek pemajuan kebudayaan yang ditetapkan dalam UU No. 5 Tahun 2017.

Joglitfest terdiri dari banyak aspek pendidikan, meliputi workshop, dongeng anak desa, dan beberapa kegiatan penting lainnya selama festival berlangsung. "Semoga festival ini berjalan setiap tahun. Memang, enggak mungkin langsung jadi dalam penyelenggaraan pertama. Kalau sudah lima tahun baru bisa dinilai apakah festival ini berhasil atau tidak. Kalau bagus lanjutkan, kalau jelek, ya, ditinggal. Namanya festival itu kudu diselenggarakan setiap tahun. Kalau lima tahun sekali, kuwi jenenge kenduren [itu namanya kenduri]" canda Marzuki, pentolan JHF.

Hal serupa diungkapkan seniman Aan Mansyur yang membacakan puisi “Makassar”. Ia mengaku tidak berekspektasi besar terhadap festival, sebab event tersebut baru pertama digelar. "Saya hanya berpikir bahwa yang pertama ini memberi ruang bagi banyak hal kepada siapa pun yang terlibat di sini untuk belajar untuk mengadakan festival kedua, ketiga, dan seterusnya. Tapi yang perlu dicatat, Joglitfest adalah kabar gembira bagi Sastra Indonesia," katanya.